jabar.aiotrade
CIANJUR – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur mencatat produksi gabah kering giling (GKG) tahun ini mencapai 750 ribu ton. Angka ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang berada di angka 630 ribu ton.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHPKP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana menjelaskan bahwa asumsi rendemen rata-rata lima tahun terakhir sebesar 58 persen membuat total estimasi produksi beras Cianjur diprediksi berada di angka 450 ribu ton.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Tahun ini Kabupaten Cianjur diperkirakan kembali mencatat surplus beras, bahkan berpeluang melampaui angka 20 persen dari target 700 ribu ton," katanya.
Hingga Agustus 2025, menurut dia, BPS mencatat luas panen mencapai 111 ribu hektare dan berpotensi bertambah di periode November–Desember. Di mana sejumlah kecamatan penyumbang produksi tertinggi termasuk Naringgul dan Cidaun yang memiliki lahan sawah lebih dari 4.000 hektare.
Kecamatan lain dengan luas sawah di atas 3.000 hektare antara lain Kecamatan Cibeber, Karangtengah, Pagelaran, Agrabinta, Kadupandak, dan Sukaresmi. Kenaikan produksi dipengaruhi oleh bertambahnya luas tanam dari 158 ribu hektare di 2024 menjadi 166 ribu hektare pada 2025.
"Cuaca kemarau basah serta perbaikan infrastruktur irigasi turut mendukung kenaikan luas tanam dan potensi panen di sejumlah kecamatan yang menjadi lumbung padi Cianjur," katanya.
Seiring meningkatnya hasil produksi pertanian di sejumlah wilayah, pihaknya memberikan perhatian khusus terutama di Kecamatan Pagelaran, Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta, dan Naringgul. Hal ini dilakukan dengan memperkuat fasilitas dan infrastruktur pertanian untuk akselerasi produksi.
Ia mengatakan, sepanjang tahun 2020–2024 Kabupaten Cianjur menjadi produsen padi terbesar keempat di Jawa Barat setelah Indramayu, Karawang, dan Subang dengan tingkat surplus stabil 19–20 persen. Hal tersebut dilanjutkan pada tahun 2026.
"Terlebih saat ini tingkat konsumsi masyarakat tidak mengalami lonjakan signifikan, sehingga penambahan penduduk sekitar 30 ribu jiwa hanya menambah kebutuhan beras sekitar 23 ribu ton dalam satu tahun," katanya.