
Penurunan Produksi Manggis di Purwakarta Tahun 2025
Produksi manggis di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan data dari Dinas Pangan dan Pertanian setempat, hasil produksi hingga September 2025 hanya mencapai 1.574 ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 18.005 ton.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Hadyanto Purnama, menjelaskan bahwa penurunan produksi ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu siklus dua tahunan tanaman manggis serta intensitas hujan yang tinggi sepanjang tahun 2025. Ia menegaskan bahwa panen tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya karena manggis memiliki siklus alami yang memengaruhi hasil panen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Panen tahun ini tidak seperti tahun kemarin karena manggis itu punya siklus dua tahunan," ujarnya. "Tahun 2025 ini hujan terus-menerus, sehingga pertumbuhannya berkurang dan banyak buah yang gugur."
Meski produksi manggis menurun, kualitas buah tahun ini justru meningkat. Hadyanto menyebutkan bahwa rasa buah manggis tahun ini lebih manis dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menambahkan bahwa kualitasnya lebih bagus, rasanya manis-asam seimbang, dan secara ukuran pun lebih besar dibanding panen 2024.
Perkembangan Populasi Pohon Manggis
Saat ini, populasi pohon manggis di Purwakarta tercatat mencapai 179.584 pohon, meningkat sekitar 1.697 pohon dibanding tahun lalu. Sebanyak 800 pohon di antaranya merupakan bantuan pemerintah daerah, sementara sisanya merupakan hasil swadaya petani.
Hadyanto mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan mutu melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP), Good Agricultural Practices (GAP), dan Good Handling Practices (GHP). Selain itu, sebanyak 562 petani telah memiliki registrasi kebun untuk mempermudah akses ekspor.
"Registrasi kebun dan petani ini penting karena jadi salah satu syarat ekspor," katanya. "Kami bantu gratis supaya buah manggis Purwakarta punya legalitas dan daya saing di pasar luar negeri."
Harga Stabil, Ekspor Masih Terbatas
Harga manggis di tingkat petani saat ini berkisar Rp50.000 per kilogram, relatif stabil dibanding tahun lalu. Namun, hanya sekitar 30 persen dari total produksi yang mampu menembus pasar ekspor karena keterbatasan perusahaan eksportir yang benar-benar berasal dari Purwakarta.
"Kita mencatat ekspor sekitar 54 ribu kilogram atau 3,34 ton, itu pun hanya 30 persen dari petani lokal. Sisanya dari luar daerah," ujar Hadyanto.
Sentra Produksi Manggis Purwakarta
Sentra manggis Purwakarta masih terpusat di lima kecamatan, yakni Panyawangan, Kiarapedes, Bojong, Darangdan, dan Pondok Salam. Tahun ini, lanjutnya, Dinas Pangan dan Pertanian kembali menyalurkan 1.000 bibit pohon manggis untuk menjaga populasi tanaman dan keberlanjutan produksi.