Penghargaan Gelar Pahlawan Nasional untuk K. H. Abdurrahman Wahid
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan penghargaan gelar Pahlawan Nasional kepada K. H. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan nama Gus Dur dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta Pusat. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi besar Gus Dur dalam berbagai aspek kehidupan bangsa.
Profil Singkat Gus Dur
K. H. Abdurrahman Wahid lahir pada 7 September 1940 di Jombang dari pasangan K. H. Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Siti Sholehah. Ia merupakan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, K. H. Hasyim Asy’ari. Sejak muda, Gus Dur menunjukkan semangat perjuangan dan pemikiran yang visioner. Ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1963, kemudian dilanjutkan di Universitas Baghdad Irak.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1971, Gus Dur aktif dalam pengembangan pendidikan Islam serta menjadi jurnalis yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru. Ia juga terpilih sebagai Ketua Umum PBNU selama tiga periode hingga tahun 1999.
Peran sebagai Presiden
Gus Dur menjadi Presiden keempat Republik Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001. Selama masa kepemimpinannya, ia dikenal dengan kebijakan pluralisme dan keberpihakan pada kemanusiaan. Beberapa kebijakan penting yang dilakukan antara lain:
- Pengakuan agama Konghucu sebagai agama resmi.
- Penetapan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.
- Pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.
- Pembubaran Departemen Sosial.
- Perubahan nama Provinsi Irian Jaya menjadi Papua.
Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh sentral dalam gerakan Reformasi. Setelah era Orde Baru berakhir, ia mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah perjuangan politik. PKB berhasil memenangkan pemilu 1999 dan membawa Gus Dur ke kursi kepresidenan.
Gaya Kepemimpinan
Selama pemerintahannya, Gus Dur dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tidak menentu namun penuh visi. Ia memperluas kebebasan pers dengan membubarkan Kementerian Penerangan pada tahun 1999. Selain itu, ia juga menjadikan Konfusianisme sebagai agama resmi keenam di Indonesia pada tahun 2000.
Meski banyak kebijakan kontroversial yang diambil, seperti pencopotan banyak menteri dari kabinet dan hubungan baik dengan Israel, Gus Dur tetap dihormati sebagai pembela Hak Asasi Manusia (HAM). Ia juga diberi gelar “Bapak Pluralisme” karena kebijakannya dalam menjaga kebhinnekaan.
Pemakzulan Gus Dur pada 23 Juli 2001 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dianggap sebagai tindakan melawan hukum oleh sebagian kalangan. Ia digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.
Pendidikan
Pendidikan di Dalam Negeri
Gus Dur kecil pindah ke Jakarta pada tahun 1944 saat ayahnya terpilih sebagai Ketua pertama Partai Masyumi. Setelah proklamasi kemerdekaan, keluarganya kembali ke Jombang. Ia bersekolah di SD KRIS dan kemudian pindah ke SD Matraman Perwari.
Ayahnya mendorong Gus Dur untuk membaca berbagai literatur, termasuk buku-buku non-Muslim, majalah, dan surat kabar. Setelah ayahnya wafat pada tahun 1953, Gus Dur melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan sempat tidak naik kelas. Ia kemudian dikirim ke Yogyakarta untuk belajar di bawah bimbingan Kiai Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak.
Pendidikan di Luar Negeri
Pada tahun 1963, Gus Dur mendapat beasiswa dari Kementerian Agama untuk melanjutkan studi Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo. Meskipun menguasai bahasa Arab, ia harus mengikuti kelas remedial karena tidak bisa menunjukkan sertifikat kemampuannya. Selama di Mesir, ia aktif dalam kegiatan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menulis di majalah organisasi tersebut.
Namun, ia merasa kecewa terhadap sistem pendidikan di Al-Azhar yang dianggap terlalu kaku. Pada tahun 1966, ia mendapat kesempatan baru dengan beasiswa ke Universitas Baghdad, Irak. Di sana, ia merasa lebih bebas dan produktif. Ia menyelesaikan studinya pada tahun 1970, kemudian melanjutkan perjalanan akademiknya ke Eropa.
