Profil Gus Dur, Presiden ke-4 yang Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

admin.aiotrade 10 Nov 2025 3 menit 21x dilihat
Profil Gus Dur, Presiden ke-4 yang Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Penghargaan Gelar Pahlawan Nasional untuk Tokoh Berpengaruh

Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh penting yang telah berkontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Salah satu yang mendapatkan penghargaan ini adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus Dur. Penganugerahan dilakukan dalam upacara yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (10/11/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dalam acara tersebut, pembawa acara menyampaikan bahwa Gus Dur adalah seorang tokoh bangsa yang selama hidupnya berjuang memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia. Penghargaan ini diserahkan kepada ahli waris Gus Dur, yaitu istrinya, Sinta Nur Wahid.

Berikut ini adalah daftar 10 tokoh yang menerima gelar pahlawan nasional dari Presiden Prabowo:

  • Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam)
  • Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto (Bidang Perjuangan Bersenjata dan Politik)
  • Almarhumah Marsinah (Bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan)
  • Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Bidang Perjuangan Hukum dan Politik)
  • Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)
  • Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Bidang Perjuangan Bersenjata)
  • Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin (Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi)
  • Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam)
  • Almarhum Tuan Rondahaim Saragih (Bidang Perjuangan Bersenjata)
  • Almarhum Zainal Abidin Syah (Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi)

Profil Singkat Gus Dur

Gus Dur lahir di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Ia merupakan putra sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, adalah tokoh penting pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara ibunya, Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar, KH Bisri Syamsuri.

Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang senang membaca. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan pribadi ayahnya maupun perpustakaan umum di Jakarta. Di masa remajanya, ia sudah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel, dan buku-buku sastra.

Selain gemar membaca, Gus Dur juga memiliki minat terhadap sepak bola, catur, dan musik. Bahkan, ia pernah diminta menjadi komentator sepak bola di televisi.

Masa remaja Gus Dur dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo, Magelang, yang menjadi periode penting dalam perkembangan intelektualnya. Setelah menempuh pendidikan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, ia melanjutkan studi ke Timur Tengah. Ia belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 1964–1966, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Baghdad, Irak, hingga 1970. Ia juga sempat melanjutkan studi di Universitas Leiden, Belanda.

Setelah kembali ke Indonesia, Gus Dur memilih berkarier sebagai pendidik. Pada 1971, ia mengajar di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng, Jombang. Tiga tahun kemudian, pamannya KH Yusuf Hasyim meminta Gus Dur menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng. Pada masa ini, ia mulai aktif menulis dan terlibat dalam berbagai kegiatan LSM, termasuk di LP3ES dan pendirian P3M yang fokus pada pengembangan pesantren dan masyarakat.

Pada 1979, Gus Dur hijrah ke Jakarta dan merintis Pesantren Ciganjur. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi wakil katib syuriah PBNU. Di organisasi ini, Gus Dur banyak terlibat dalam diskusi lintas agama, suku, dan disiplin ilmu, sambil terus memperkuat kiprahnya di dunia pemikiran, kebudayaan, dan politik.

Momentum besar datang pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada 1984, ketika Gus Dur terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia akhirnya melepas posisi tersebut ketika menjabat Presiden ke-4 RI, menggantikan BJ Habibie.

Sebagai presiden, Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralisme. Salah satu contohnya adalah saat mencabut larangan perayaan Imlek melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2001 yang menjadikan Imlek sebagai hari libur. Namun masa jabatannya tidak berlangsung lama. Setelah memimpin selama 21 bulan, Gus Dur diberhentikan oleh MPR pada 23 Juli 2001 dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

Delapan tahun kemudian, pada 30 Desember 2009, Gus Dur wafat di usia 69 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan