Peran Penting Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dalam Sejarah Indonesia
Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo adalah tokoh penting dalam sejarah Angkatan Darat (AD) Indonesia. Ia dikenal sebagai Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini lebih dikenal dengan nama Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Pada masa pemerintahan Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) dan pimpinan sementara AD, Sarwo Edhie mendapat tugas penting.
Tugas utama yang diberikan kepadanya adalah menguasai kembali Radio Republik Indonesia (RRI) dan gedung telekomunikasi. Selain itu, ia juga ditugaskan untuk menguasai pangkalan udara Halim Perdanakusuma, yang menjadi basis kekuatan kelompok Untung. Tugas terakhirnya adalah menyingkirkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berkat kecepatan dan keberanian Sarwo Edhie bersama timnya, PKI akhirnya berhasil ditumpas.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Profil Singkat Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo
Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo lahir di Pangenjuru, Purworejo, Jawa Tengah pada 25 Juli 1925. Karier militernya dimulai sejak masa penjajahan Jepang, ketika ia bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943. Setelah kemerdekaan RI, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berperan aktif dalam berbagai pertempuran melawan Belanda.
Sarwo Edhie kemudian menjadi Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) dan memimpin operasi penting seperti pembebasan sandera di Woyla, Papua, serta penumpasan Gerakan 30 September 1965 (G30S) dengan peran mengamankan Lubang Buaya. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, dan Gubernur AKABRI.
Sarwo Edhie Wibowo menikah dengan Hj. Rachmiati, dan mereka memiliki lima anak. Ia wafat pada 9 November 1989 di Jakarta karena sakit jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan penghormatan militer. Meskipun kiprahnya dalam peristiwa G30S masih kontroversial, ia tetap dikenang sebagai sosok militer yang berani dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Mertua Susilo Bambang Yudhoyono
Sarwo Edhie Wibowo adalah mertua dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY menikah dengan Kristiani Herrawati, yang merupakan putri dari Sarwo Edhie Wibowo. Dengan demikian, Sarwo Edhie adalah ayah mertua SBY.
Saat masih muda, wajah Sarwo Edhie Wibowo konon sangat mirip dengan cucunya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto masa muda Sarwo Edhie dengan baret merah Kopassus menunjukkan sosok yang gagah dan berwibawa, dan banyak warganet mengomentari kemiripan ini secara visual. Hal ini tidak mengherankan karena Sarwo Edhie adalah ayah dari Kristiani Herrawati, ibu dari AHY, sehingga ada keterkaitan keluarga langsung yang menurunkan kesamaan fisik secara sekilas.
Kemiripan ini sering menjadi sorotan saat foto-foto masa muda Sarwo Edhie diunggah di media sosial.
Biodata Lengkap Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo
- Nama Lengkap: Sarwo Edhie Wibowo
- Tempat, Tanggal Lahir: Pangenjuru, Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925
- Wafat: 9 November 1989, Jakarta
- Pendidikan Militer: Bergabung dengan PETA (1943), kemudian Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
- Karier Militer:
- Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945–1951)
- Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951–1953)
- Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959–1961)
- Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962–1964)
- Komandan RPKAD (1964–1967)
- Panglima Kodam II/Bukit Barisan, Sumatera Utara (1967–1968)
- Panglima Kodam XVII/Cendrawasih (Irian Barat/Papua) (1968–1970)
- Jabatan Lain:
- Ketua BP-7 Pusat
- Duta Besar RI untuk Korea Selatan
- Gubernur AKABRI