
Presiden Prabowo Subianto secara resmi memberikan gelar anugerah Pahlawan Nasional kepada tokoh militer, Sarwo Edhie Wibowo, di Istana Negara pada Senin (10/11). Seorang tokoh asal Jawa Tengah yang dikenal sebagai sosok prajurit tempur.
Profil Sarwo Edhie Wibowo
Sarwo Edhie lahir pada tanggal 25 Juli 1927 di Pangenjuru, Purworejo. Ia adalah putra dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga PNS yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ada cerita menarik mengenai nama yang diberikan kepadanya saat kecil. Awalnya, ia lahir dengan nama Edhie Wibowo. Namun, karena sering sakit-sakitan, sesuai dengan adat Jawa, nama "Edhie" ditambahkan dengan kata "Sarwo". Akhirnya, namanya menjadi Sarwo Edhie. Bahkan setelah menikah hingga wafat, namanya tetap dikenal sebagai Sarwo Edhie Wibowo.
Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA). PETA merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.

Namun, selama berkecimpung di sana, Sarwo Edhie merasa kecewa. Tugas-tugasnya selama periode ini sebagian besar hanya memotong rumput, membersihkan toilet, dan membuat tempat tidur bagi perwira Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sarwo Edhie bergabung dengan BKR. BKR adalah organisasi milisi yang akan menjadi cikal bakal ABRI (Tentara Nasional Indonesia) dan membentuk batalion. Namun, usaha itu gagal dan batalion bubar.
Teman satu kampung halamannya, Jenderal Ahmad Yani, kemudian mendorongnya untuk terus menjadi seorang tentara dan mengundangnya untuk bergabung dengan Batalion di Magelang, Jawa Tengah.

Karier Sarwo Edhie di ABRI mencakup beberapa jabatan penting, antara lain:
Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945—1951)
Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951—1953)
Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959—1961)
Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962—1964)
* Komandan RPKAD (1964—1967)
Peran di RPKAD
RPKAD merupakan pasukan elite TNI AD saat itu. Ini merupakan cikal bakal terbentuknya Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.
Sarwo Edhie bukan pendiri RPKAD, tapi perannya besar dalam memodernisasi dan membangun karakter RPKAD. Pada tahun 1964, Ahmad Yani telah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan menginginkan seseorang yang bisa dia percaya sebagai Komandan RPKAD. Akhirnya, Sarwo Edhie diangkat sebagai komandan.
Setelah menjadi Komandan RPKAD, ia kemudian berturut-turut menjabat Panglima Kodam II/Bukit Barisan, dan Panglima Kodam XVII/Cendrawasih.

Sarwo Edhie meninggal pada 9 November 1989 pada usia 62 tahun. Ia dimakamkan di daerah asalnya di tempat pemakaman keluarga Purworejo, tepatnya di Kampung Ngupasan, Kelurahan Pangenjurutengah, Purworejo.
Dalam penganugerahan gelar pahlawan, hadir Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Sarwo Edhie merupakan kakek dari ibu AHY.
Sarwo Edhie memiliki anak perempuan bernama Kristiani Herrawati atau dikenal dengan panggilan Ani Yudhyono. Ani menikah dengan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.