
Pertumbuhan sektor konsumer di Indonesia masih menghadapi tantangan hingga paruh pertama tahun 2025. Namun, berbagai program pemerintah dan kebijakan ekonomi yang diterapkan dinilai memiliki potensi untuk menjadi katalis positif bagi kinerja emiten di sektor ini.
Salah satu program yang menarik perhatian adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diproyeksikan mampu mendukung kinerja sektoral, terutama bagi segmen mass market dan barang kebutuhan pokok. Analis CGS International Sekuritas, Joanne Ong & Baruna Arkasatyo dalam risetnya pada 19 September 2025 menyatakan bahwa MBG dapat menjadi pendukung utama kinerja sektor konsumer ke depan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Joanne, lemahnya kinerja emiten konsumer pada semester I-2025 disebabkan oleh penurunan konsumsi dari kalangan menengah atas. Penjualan dari segmen mobil, pusat perbelanjaan kelas menengah atas, hingga hotel mewah menjadi faktor utama perlambatan. Selain itu, bank-bank juga semakin hati-hati dalam menyalurkan kredit konsumsi karena khawatir terhadap kualitas aset.
Di sisi lain, Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa pelemahan kinerja juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat menengah ke bawah yang sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Persaingan harga di pasar domestik membuat ruang untuk menaikkan harga jual menjadi terbatas.
Azis menilai bahwa program MBG dapat menjadi penopang sektor, terutama bagi emiten konsumer dengan jaringan distribusi luas dan kapasitas produksi besar. Permintaan tambahan dari pemerintah dan mitra pelaksana program MBG diharapkan mampu meningkatkan volume penjualan secara berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan di tengah kondisi konsumsi yang masih moderat.
Namun, Azis memperingatkan bahwa efek positif dari program MBG kemungkinan lebih signifikan bagi perusahaan besar dibanding pemain skala menengah dan kecil. Selain itu, langkah pemerintah lainnya seperti stimulus ekonomi 8+4+5 juga berpotensi memberi dorongan positif, terutama untuk segmen menengah ke bawah yang menjadi basis utama konsumsi produk konsumer.
Azis memperkirakan bahwa emiten subsektor makanan-minuman dan kebutuhan pokok akan lebih cepat merasakan manfaat stimulus pemerintah. Hal ini disebabkan oleh sifat produk yang esensial dan memiliki perputaran penjualan tinggi.
Meskipun demikian, Azis menyarankan investor untuk tetap memantau sentimen inflasi pangan dan tren harga komoditas global. Perilaku konsumsi menjelang momentum Natal dan Tahun Baru juga akan berpengaruh terhadap kinerja emiten.
Sementara itu, Joanne menyarankan investor untuk memantau keberhasilan pelaksanaan program MBG, insentif konsumsi tambahan dari pemerintah, serta dinamika rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dengan melihat kondisi tersebut, Joanne mempertahankan peringkat netral untuk sektor konsumer dengan merekomendasikan beli saham UNVR di target harga Rp 1.910 per saham.
UNVR Chart
by TradingView
Sedangkan Azis merekomendasikan beli saham ICBP dan JPFA dengan target harga masing-masing Rp 11.450 dan Rp 2.330 per saham hingga akhir tahun. Rekomendasi ini didasarkan pada prospek kinerja yang lebih baik dari kedua emiten tersebut, terutama dalam menghadapi tantangan pasar saat ini.