Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih fleksibel dalam penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa para Ahli Gizi yang bertugas di dapur-dapur MBG tidak boleh hanya terpaku pada buku-buku acuan atau bahan baku yang itu-itu saja.
Menurut Nanik, saat ini terjadi kelangkaan beberapa bahan baku pangan seperti pakcoy, wortel, buncis, kacang, selada, dan timun. Jika para Ahli Gizi hanya mengandalkan bahan-bahan tersebut tanpa mempertimbangkan alternatif lain, maka akan berdampak pada ketersediaan dan harga produk-produk tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Pemakaian terbesar adalah pakcoy, wortel, buncis, kacang, kemudian selada, timun kadang-kadang. Nah kalau anda hanya di situ mengukurnya, hanya text book saja, maka akan terjadi kelangkaan produk-produk tadi dan harganya akan melejit,” ujar Nanik dalam pengarahannya di acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu, 14 Desember 2025.
Nanik juga menyarankan agar para Ahli Gizi melakukan evaluasi terhadap kandungan gizi dari bahan-bahan pangan yang mirip dengan bahan-bahan yang tercantum dalam buku acuan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pembuatan menu yang monoton dan berulang, karena pemakaian yang terus-menerus dalam jumlah besar bisa memicu lonjakan harga.
Program MBG seharusnya menjadi sarana untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa menyebabkan masalah harga. Contohnya, saat harga kentang turun, petani Wonosobo dan Bandung merasa sedih. Untuk itu, Nanik meminta kepada Sony Sonjaya, Wakil Kepala BGN, untuk instruksikan seluruh Ka SPPG menggunakan kentang.
“Pernah kan? Nah, akhirnya harga kentang bisa naik. Sebaliknya kalau anda lihat harga di pasar sudah tinggi, tinggalkan. Pakai produk yang lain, supaya harga itu tidak terus tinggi,” kata Nanik.
Salah satu misi utama dari Program MBG adalah mengendalikan harga bahan baku pangan di pasaran. Jika harga tidak dikendalikan, maka inflasi bisa terjadi. Oleh karena itu, Nanik meminta para Ahli Gizi untuk lebih waspada dan proaktif dalam mengelola bahan baku pangan.
“Ahli Gizi, tolong diperhatikan, ya… Kita punya misi untuk menstabilkan harga komoditas, agar tidak melejit dan juga agar tidak terlalu jatuh,” ujarnya.
Selain itu, para Ahli Gizi di setiap Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) diminta untuk lebih kreatif dalam menyusun menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu harus sesuai dengan kebutuhan gizi, tetapi juga perlu memperhatikan harga bahan baku pangan. Dengan pemahaman ini, program MBG dapat menjadi alat pengendali harga bahan baku pangan di tengah masyarakat.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain: * Mencari alternatif bahan baku yang memiliki kandungan gizi serupa namun harganya lebih terjangkau. * Menyusun menu yang bervariasi untuk menghindari ketergantungan pada satu jenis bahan pangan. * Memantau harga pasar secara berkala dan menyesuaikan pilihan bahan baku sesuai kondisi pasar.
Dengan demikian, program MBG tidak hanya memberikan manfaat nutrisi bagi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas harga bahan pangan di pasar.