Prospek Emiten Emas 2026: Saham Menarik untuk Dikoleksi

admin.aiotrade 28 Des 2025 5 menit 15x dilihat
Prospek Emiten Emas 2026: Saham Menarik untuk Dikoleksi


Jakarta. Laju kenaikan harga emas terus mengalami peningkatan yang sulit untuk dibendung hingga akhir tahun 2025. Diperkirakan, perusahaan-perusahaan produsen emas akan kembali merasakan dampak positif dari kenaikan harga komoditas tersebut pada tahun depan.

Pekan ini, harga emas dunia kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Mengutip data dari trading economics, harga emas dunia menembus level US$ 4.532,18 per ons troi pada Jumat (26/12/2025). Pada saat yang sama, harga saham-saham emiten emas juga mengalami lonjakan dalam sebulan terakhir.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) misalnya, harga saham emiten tersebut naik 10,65% dalam sebulan terakhir ke level Rp 3.220 per saham pada Rabu (24/12/2025). Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mengalami kenaikan sebesar 9,60% ke level Rp 1.085 per saham dalam periode yang sama.

Lonjakan harga saham juga dialami oleh PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan kenaikan sebesar 49,56% ke level Rp 1.690 per saham dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang naik 51,29% ke level Rp 2.050 per saham. Selain itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) masing-masing mengalami kenaikan sebesar 9,71% ke level Rp 29.650 per saham dan 5,71% ke level Rp 555 per saham.

Emiten pendatang baru, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), turut mencatat kenaikan harga saham sebesar 50,68% ke level Rp 5.575 per saham dalam sebulan terakhir. Namun, dalam periode yang sama, harga saham induknya yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyusut 3,08% ke level Rp 2.200 per saham.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menjelaskan bahwa rekor harga emas dunia tercipta seiring ancaman resesi ekonomi dan ekspektasi berlanjutnya penurunan suku bunga acuan The Fed pada tahun depan. Rekor tersebut tentu berdampak positif terhadap harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten emas, sehingga akhirnya terefleksikan pada harga saham emiten yang bersangkutan.

"Kenaikan harga saham sekarang menunjukkan operating leverage seiring kenaikan ASP," ujar dia, Rabu (24/12).

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyampaikan bahwa lonjakan harga emas menegaskan bahwa komoditas tersebut masih menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global. Penguatan harga emas tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan akumulasi dari beberapa sentimen besar yang terjadi secara bersamaan.

Berikut beberapa faktor yang memengaruhi penguatan harga emas:

  1. Meningkatnya tensi geopolitik global dan fragmentasi ekonomi dunia membuat investor global kembali agresif mencari aset safe haven.
  2. Ekspektasi kuat bahwa The Fed akan memasuki fase pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa tahun ke depan dan menekan real yield obligasi AS, sehingga biaya peluang memegang emas menjadi jauh lebih rendah.
  3. Tren pembelian emas oleh bank sentral dunia terutama negara berkembang menjadi penopang struktural yang kuat bagi harga emas, karena permintaan ini bersifat jangka panjang dan relatif tidak sensitif terhadap volatilitas jangka pendek.

Secara sederhana, ketika harga emas naik tajam sementara biaya produksi relatif stabil, maka margin laba emiten emas akan menguat, sehingga hal inilah yang menjadi katalis utama penguatan saham.

"Investor mulai mengantisipasi lonjakan pendapatan dan laba bersih yang lebih kuat, terutama bagi emiten dengan profil biaya produksi rendah dan volume produksi yang stabil," ungkap Hendra, Sabtu (27/12/2025).

Hendra melanjutkan, secara fundamental prospek kinerja emiten emas masih tergolong cerah pada 2026, meskipun pola pertumbuhannya berpotensi lebih selektif dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 banyak emiten emas mencatat pertumbuhan laba dobel bahkan triple digit karena efek lonjakan harga emas yang ekstrem dari basis yang rendah, maka pada 2026 ruang pertumbuhan tersebut kemungkinan akan lebih moderat.

Meski demikian, harga emas yang diproyeksikan tetap tinggi, bahkan menurut JP Morgan berpotensi mendekati US$ 5.000 per ons, masih cukup untuk menjaga profitabilitas emiten di level yang sangat sehat.

"Pertumbuhan ke depan tidak hanya bergantung pada harga emas, tetapi juga pada kemampuan emiten mengelola biaya, meningkatkan recovery tambang, serta menambah cadangan produksi," jelas Hendra.

Sementara itu, kebijakan bea keluar ekspor emas berpotensi mengubah peta persaingan sektor komoditas tersebut. Wafi menilai, kebijakan ini tidak berdampak bagi emiten emas yang sudah memiliki fasilitas smelter atau pemurnian lantaran mereka dapat membuat produk turunan emas yang tidak terkena bea keluar. Sebaliknya, emiten yang hanya menambang bijih emas terancam mengalami tekanan margin akibat kebijakan tersebut.

Dia menambahkan, emiten-emiten emas diyakini akan tetap ekspansif di tengah harga emas yang diprediksi masih bullish pada 2026. Walau begitu, ada kemungkinan ekspansi berupa akuisisi tambang emas lebih ramai ketimbang eksplorasi cadangan emas baru yang bisa menelan biaya investasi besar.

"Strategi ekspansi 2026 bisa bergeser ke akuisisi secara agresif daripada eksplorasi baru," imbuh Wafi.

Menurut Hendra, emiten emas yang mampu mengamankan cadangan sejak dini akan memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang, terutama jika harga emas bertahan di level tinggi. ANTM Chart by TradingView

Investor pun cenderung memberikan valuasi premium kepada emiten yang memiliki visibilitas cadangan dan umur tambang yang panjang. Dari sisi strategi investasi, emiten emas dengan profil biaya rendah, neraca keuangan sehat, serta cadangan yang jelas masih menjadi pilihan utama.

Hendra menyarankan investor untuk speculative buy saham MDKA dengan target harga Rp 2.600 per saham berkat eksposur emas yang kuat dan portofolio aset yang terus berkembang. Rekomendasi trading buy disematkan untuk saham ANTM dengan target harga di level Rp 3.540 per saham seiring leverage langsung terhadap harga emas dan potensi peningkatan kinerja segmen logam mulia.

Sementara itu, saham BRMS direkomendasikan buy on weakness oleh Hendra dengan target harga di level Rp 1.200 per saham. Rekomendasi serupa juga disematkan untuk saham ARCI dengan target harga di level Rp 1.845 per saham. Di lain pihak, Wafi menyebut saham BRMS, MDKA, ANTM, dan PSAB layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 1.160 per saham, Rp 2.700 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 680 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan