
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Prospek sektor pulp dan kertas Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, terutama di paruh kedua 2025. Meski masih menghadapi dinamika siklus harga pulp global dan fluktuasi nilai tukar, pemulihan permintaan ekspor serta stabilnya pasar domestik menjadi faktor utama yang mendukung kinerja sektor ini ke depan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, harga pulp global telah melewati titik terendahnya. Kondisi ini memberi peluang untuk pemulihan kinerja emiten pulp dan kertas, meskipun belum sepenuhnya bebas dari risiko. Ia menyatakan bahwa outlook 2025–2026 memang masih mixed (beragam), tetapi cenderung membaik. Harga pulp sudah melewati fase bottom (dasar), permintaan ekspor mulai pulih, dan pasar domestik relatif stabil. Meski ada upside (potensi kenaikan), hal ini sangat bergantung pada siklus harga pulp dan pergerakan kurs.
Pemain Utama di Sektor Pulp dan Kertas
Dari sisi emiten, Wafi menilai PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) sebagai dua pemain paling solid di sektor ini. Skala usaha yang besar, integrasi bisnis dari hulu ke hilir, serta efisiensi biaya menjadi keunggulan utama kedua emiten tersebut dalam menghadapi naik-turunnya siklus industri.
Di sisi lain, emiten berskala lebih kecil seperti PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI) dan PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) dinilai lebih bersifat niche dengan likuiditas saham yang terbatas. Sementara itu, PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) disebut memiliki tingkat risiko paling tinggi. “Skalanya kecil dan daya tawarnya lemah, sehingga risikonya lebih besar,” ujarnya.
Dampak ESG dan Regulasi Kehutanan
Dari aspek keberlanjutan, Wafi menilai penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance) dan regulasi kehutanan memiliki dampak dua sisi. Dalam jangka pendek, kepatuhan terhadap standar ESG berpotensi menekan biaya operasional. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, hal tersebut justru bisa menjadi katalis positif bagi emiten yang mampu memenuhi standar keberlanjutan.
Emiten yang gagal memenuhi aspek ESG berisiko kehilangan akses pasar ekspor maupun sumber pendanaan. Oleh karena itu, pengelolaan ESG menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing sektor ini.
Strategi Investasi di Sektor Pulp dan Kertas
Dari perspektif investasi, Wafi menyarankan strategi berbasis siklus dan valuasi. Investor dinilai lebih tepat melakukan akumulasi saat harga pulp berada dalam fase datar atau mulai naik, serta menghindari pembelian ketika harga saham sudah reli terlalu tinggi. Ia menekankan bahwa sektor ini lebih cocok untuk strategi mid-term, bukan trading jangka pendek. Investor juga perlu mencermati faktor kurs, harga pulp, dan rencana belanja modal emiten.
Rekomendasi Saham
Untuk rekomendasi saham, Wafi menilai INKP dan TKIM masih menarik dikoleksi sebagai strategi investasi menuju 2026. Sementara KBRI dan SWAT dinilai lebih cocok untuk strategi trading jangka pendek. Adapun saham INRU dinilai berisiko tinggi dan sebaiknya dihindari, kecuali terdapat katalis turnaround yang jelas.