
Prediksi Rebound Saham Blue Chip pada 2026
Banyak analis memprediksi bahwa peluang rebound saham blue chip akan terjadi pada tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada beberapa katalis yang berpotensi memberikan dorongan signifikan bagi sektor tersebut. Meski selama tahun 2025 (Year to Date) sejumlah saham blue chip tampak tidak bertenaga, ada indikasi bahwa situasi bisa berubah di masa depan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kinerja Saham Blue Chip pada Tahun 2025
Dari sektor perbankan, beberapa saham blue chip mengalami penurunan signifikan. Contohnya, saham BBRI terkoreksi sebesar 7,35%, BMRI turun 12,46%, dan BBCA mencatatkan penurunan hingga 14,21%. Hanya BBNI yang masih mampu menunjukkan pertumbuhan tipis sebesar 2,07% YtD.
Di luar sektor perbankan, saham-saham lain seperti INDF, ICBP, dan KLBF juga mengalami penurunan. INDF turun 12,01%, ICBP turun 27,03%, dan KLBF turun 10,29%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar saham blue chip mengalami tekanan pada tahun 2025.
Peluang Rebound pada Tahun 2026
Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, peluang pembalikan kinerja saham blue chip sangat terbuka pada 2026. Beberapa faktor yang menjadi katalis antara lain harga saham yang relatif murah, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan, serta pemulihan konsumsi masyarakat.
Selain itu, ia melihat potensi rotasi investor dari saham yang telah diuntungkan oleh momentum pada 2025 ke saham berfundamental baik. Dengan demikian, saham blue chip yang sudah lama beroperasi di pasar modal Indonesia berpotensi mendapatkan manfaat dari aksi ini.
“Himbara, BBCA, consumer staples, dan kesehatan berpeluang menjadi penentu arah IHSG karena earnings visibility yang lebih kuat,” ujarnya.
Perspektif Analis BRI Danareksa Sekuritas
Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas, juga menyatakan bahwa peluang rebound saham blue chip semakin lebar pada tahun depan. Menurutnya, saham-saham berfundamental solid ini telah diperdagangkan pada valuasi yang murah dibandingkan posisi historisnya.
Contohnya, BBCA selama tiga tahun terakhir masih mencatat koreksi sebesar 3,77%. Harga saham perbankan milik Djarum ini pernah berada pada level Rp10.950 selama tiga tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa peluang pembalikan arah menuju penguatan BBCA masih terbuka.
“Ketertinggalan indeks IDX30 menciptakan valuasi diskon yang sangat menarik dibandingkan historisnya, membuka peluang akumulasi bagi investor institusi domestik maupun asing,” kata Abida.
Perbedaan Dividend Yield dan Yield Obligasi
Belum lagi, terdapat spread antara dividend yield saham blue chip dengan yield obligasi pemerintah yang cukup lebar. Dividend yield berada di kisaran 5–7%, sementara yield SBN berada pada level mendekati 5%. Hal ini menurut Abida bakal memaksa terjadinya rotasi dana dari instrumen berpendapatan tetap ke ekuitas.
Rotasi ini diperkirakan akan memuncak menjelang musim dividen pada periode Maret–Juni 2026. Selain itu, revisi laba emiten blue chip yang kian positif juga berpeluang mengejar ketertinggalannya dengan IHSG.
Penyebab Koreksi pada 2025
Menurut Abida, koreksi saham blue chip sepanjang 2025 terjadi lantaran aksi jual asing yang masif. Hal ini disebabkan oleh sentimen pasar global yang risk-off dan pelemahan rupiah yang terjadi pada periode ini. Rupiah sendiri telah terdepresiasi sebesar 2,33% YtD ke level Rp16.670 per dolar AS.
“Sektor finansial, sebagai proksi utama blue chip, memiliki korelasi yang mendekati sempurna dengan arus dana asing, sehingga outflow berdampak signifikan pada penurunan harga,” katanya.