
Di tengah dinamika pasar global, sektor pulp dan kertas Indonesia masih menunjukkan prospek yang moderat hingga akhir 2025 dan sepanjang 2026. Kinerja sektor ini sangat bergantung pada siklus harga pulp dunia serta pemulihan permintaan ekspor.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa volatilitas harga pulp yang belum sepenuhnya stabil menjadi tantangan utama bagi perusahaan di sektor ini. Ia menjelaskan bahwa fluktuasi harga ini memengaruhi margin keuntungan perusahaan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki struktur biaya efisien dan integrasi dari hulu ke hilir.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Pergerakan sektor pulp dan kertas masih sangat dipengaruhi oleh siklus harga pulp global. Ketidakstabilan harga pulp meningkatkan risiko, kecuali bagi emiten yang memiliki struktur biaya efisien dan terintegrasi dari hulu ke hilir,” ujar Ekky dalam wawancaranya.
Dari sisi permintaan, Ekky melihat pemulihan bertahap pasar ekspor, khususnya dari Tiongkok dan kawasan Asia, sebagai penopang utama sektor ini. Permintaan terhadap produk kemasan dan tisu dinilai lebih resilien dibandingkan segmen kertas cetak dan tulis.
Di antara emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, Ekky menilai PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) memiliki fundamental paling solid dan daya tahan kinerja terbaik. Skala bisnis besar, integrasi aset hutan tanaman industri, serta portofolio produk yang beragam membuat kedua emiten tersebut lebih tahan terhadap fluktuasi harga pulp. Selain itu, ekspansi kapasitas yang mulai berkontribusi pada periode 2025-2026 berpotensi menjadi katalis pertumbuhan volume dan pendapatan.
Sementara itu, emiten lain seperti PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI) dan PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) dinilai lebih selektif dan sensitif terhadap efisiensi operasional. Adapun PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) menghadapi tantangan tambahan dari sisi isu lingkungan dan persepsi publik yang dapat memengaruhi sentimen pasar.
Terkait isu keberlanjutan, Ekky menilai aspek ESG dan regulasi kehutanan ke depan akan menjadi faktor pembeda utama di sektor pulp dan kertas. Emiten yang telah menerapkan praktik ESG dengan baik justru berpeluang memperoleh katalis positif melalui peningkatan daya saing ekspor dan akses pendanaan. Sebaliknya, perusahaan yang belum siap berisiko menghadapi tekanan kinerja dan sentimen pasar.
Dari sisi investasi, Ekky menyarankan strategi selektif dengan orientasi jangka menengah hingga panjang. Investor disarankan fokus pada emiten dengan fundamental kuat dan neraca keuangan sehat. “INKP dan TKIM masih relatif menarik untuk dikoleksi, terutama jika terjadi rotasi dana ke saham-saham big caps pada 2026. Sebaliknya, saham pulp dan kertas dengan skala kecil dan risiko ESG tinggi perlu dicermati lebih hati-hati karena volatilitasnya cenderung lebih besar,” tutup Ekky.