Proyek Danantara Jadi Ancaman Bagi Emiten Poultry, Ini Rekomendasi Analis

admin.aiotrade 16 Nov 2025 3 menit 14x dilihat
Proyek Danantara Jadi Ancaman Bagi Emiten Poultry, Ini Rekomendasi Analis


Proyek Danantara dengan Investasi Rp 20 Triliun Berpotensi Mengubah Dinamika Sektor Unggas di Indonesia

Pengumuman rencana investasi besar-besaran sebesar Rp 20 triliun oleh Danantara untuk membangun peternakan unggas terintegrasi mulai tahun 2026 dinilai bisa menjadi perubahan signifikan dalam persaingan emiten unggas. Proyek ini, yang akan dimulai pada Januari 2026, diharapkan mampu meningkatkan produksi ayam dan telur serta menstabilkan harga pasar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Proyek ini juga memiliki potensi untuk menjadi ancaman atau katalis positif bagi emiten-emiten unggas seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), dan PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM). Hal ini sangat bergantung pada skema kerja sama dan strategi ekspansi yang dipilih oleh Danantara dalam mengembangkan proyek tersebut.

Tujuan Utama Proyek Danantara

Dengan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan), Danantara berencana membangun sistem peternakan terintegrasi. Tujuannya adalah untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), menstabilkan harga, serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa saat ini proyek Danantara masih dalam fase pra-feasibility study. Namun, ia melihat dua skenario yang mungkin terjadi:

  1. Skenario pertama: Danantara membangun entitas sendiri atau bekerja sama dengan peternak small-to-mid di luar empat emiten tersebut.
  2. Skenario kedua: Danantara akan menjalin kerja sama dengan emiten unggas seperti CPIN, JPFA, dan MAIN.

Jika skenario pertama diambil, maka hal ini bisa melemahkan harga ayam dan profitabilitas empat emiten tersebut.

Pandangan Analis BRI Danareksa Sekuritas

Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa jika Danantara ingin menjadi pemain yang sepenuhnya terintegrasi, emiten-emiten unggas ini bisa menjadi pesaing. Namun, mereka menekankan bahwa proses ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun dan eksekusi yang kuat.

Meskipun begitu, Victor dan Wilastita tetap optimis bahwa proyek ini bisa menjadi katalis positif bagi emiten unggas. Misalnya, melalui investasi di industri pangan, pakan, atau infrastruktur pendukung seperti cold-chain dan fasilitas pemrosesan.

Prospek Emiten Unggas ke Depan

Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas Indonesia memandang bahwa prospek emiten unggas ke depan masih memiliki potensi positif. ASP (harga jual rata-rata) telah mengalami perbaikan seiring permintaan yang mulai meningkat.

Azis menilai bahwa kedatangan investasi Danantara bisa menjadi katalis positif. Dengan adanya investasi tersebut, efisiensi biaya bisa meningkat, kapasitas produksi diperkuat, dan peluang ekspor terbuka.

Selain itu, Azis menyoroti bahwa musim liburan akhir tahun akan meningkatkan permintaan konsumen. Selain itu, harga jual yang lebih tinggi akibat aktivitas culling yang berkelanjutan dan pengurangan kuota impor grand-parent stock (GPS) juga bisa mendukung pertumbuhan pendapatan.

Faktor Penting yang Perlu Dicermati

Harry juga menyoroti pentingnya memantau harga soybean meal. Penguatan harga soybean meal bisa terjadi didukung oleh pernyataan Presiden Trump bahwa China akan membeli American soybean sebesar 12 juta ton. Kenaikan harga soybean meal bisa menggerus margin laba perusahaan unggas, mengingat soybean berkontribusi sebesar 25% pada COGS (Cost of Goods Sold).

Rekomendasi Saham dari Analis

Harry merekomendasikan investor untuk membeli saham CPIN dengan target harga Rp 6.125 per saham, JPFA dengan target harga Rp 2.410 per saham, serta MAIN dengan target harga Rp 910 per saham.

Victor dan Wilastita merekomendasikan beli saham CPIN dengan target harga Rp 6.400 per saham, JPFA dengan target harga Rp 2.800 per saham, serta MAIN dengan target harga Rp 1.300 per saham.

Mereka mempertahankan rating Overweight untuk sektor perunggasan karena momentum laba diperkirakan tetap kuat dalam jangka pendek, didukung oleh perbaikan kondisi supply-demand.

Rekomendasi Akhir

Azis merekomendasikan investor untuk mencermati saham JPFA dengan target harga Rp 3.110 per saham. Ia percaya bahwa JPFA memiliki potensi yang baik dalam situasi pasar yang sedang berkembang.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan