
Jakarta – Kinerja emiten BUMN karya akan mengalami dorongan positif dari proyek-proyek baru yang diperoleh di kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Beberapa perusahaan konstruksi milik BUMN telah resmi menandatangani kontrak besar untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas di IKN, yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan memperkuat posisi keuangan mereka.
Proyek Besar di IKN
PT PP Tbk (PTPP) menjadi salah satu perusahaan yang mendapatkan tiga kontrak besar dalam proyek IKN. Pertama, melalui konsorsium PP–ADHI–JAKON KSO, PTPP memulai pembangunan fasilitas pendukung Otorita IKN. Fasilitas ini mencakup gedung kantor pendukung OIKN, gedung Polresta IKN, bangunan utilitas, masjid kawasan, lapangan upacara, dan lapangan olahraga, serta penataan kawasan terpadu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kedua, PTPP juga terlibat dalam pembangunan Gedung dan Kawasan Sidang Paripurna senilai Rp 1,258 triliun. Proyek ini dikerjakan oleh konsorsium PP-ADHI KSO. Ketiga, PTPP bekerja sama dengan konsorsium ADHI–PP–Penta untuk membangun gedung lembaga DPD RI senilai Rp 1,48 triliun.
Selain PTPP, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga mendapatkan proyek besar, yaitu pembangunan gedung dan kawasan lembaga DPR RI di IKN senilai Rp 1,84 triliun. Targetnya, proyek ini akan selesai pada tahun 2027.
Sementara itu, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mendapat dua proyek baru di IKN. Pertama, pembangunan bangunan gedung dan kawasan lembaga DPR II senilai Rp 1,96 triliun. Kedua, paket pembangunan gedung dan kawasan lembaga MPR serta bangunan pendukung di IKN senilai Rp 1,70 triliun.
Direktur Utama WIKA, Agung BW, menyampaikan bahwa saat ini WIKA sedang mengerjakan beberapa proyek strategis lainnya di IKN. Beberapa di antaranya adalah pembangunan Jalan Paket G di KIPP 1B–1C, Tol Sepinggan – Paket 1B, serta Tol IKN Segmen 3B-2 Kariangau–Tempadung. Selain itu, WIKA juga menangani pekerjaan Jalan Kawasan Hankam dan Lingkar Sepaku di KIPP serta pembangunan Jaringan IPAL 1 dan 3 KIPP IKN.
Anak usaha WIKA, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE), juga mendapatkan paket pekerjaan konstruksi terintegrasi rancang dan bangun (design and build) untuk pembangunan bangunan gedung dan kawasan lembaga DPR II. Proyek senilai Rp1,96 triliun ini dikerjakan melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) bersama WIKA.
Dampak pada Pendapatan
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, melihat bahwa kontrak jumbo baru dari IKN secara umum akan menambah backlog dan membuka peluang peningkatan pendapatan dalam dua tahun mendatang. Bagi PTPP, dampak ini cenderung positif karena kondisi keuangannya relatif sehat, sehingga tambahan proyek dapat langsung memperkuat kinerja tanpa menekan arus kas secara ekstrem.
Namun, bagi WIKA dan WSKT, kontrak ini cenderung menjadi sentimen positif di pasar ketimbang peningkatan fundamental. Sebab, kebutuhan modal kerja untuk mengerjakan proyek IKN justru berpotensi menambah tekanan arus kas dan memperburuk leverage. Risiko lambatnya pembayaran proyek pemerintah serta margin tipis pada proyek penugasan membuat proyek baru ini bisa menjadi beban tambahan dan bukan pemulih laba.
Prospek dan Rekomendasi
Arinda berpandangan bahwa prospek emiten BUMN konstruksi pada tahun 2026 berpotensi membaik dibanding 2025. Terutama jika pembayaran proyek pemerintah termasuk proyek IKN fase awal dapat dicairkan lebih cepat, sehingga membantu memperbaiki arus kas yang selama ini menjadi isu terbesar. Jika suku bunga mulai menurun dan restrukturisasi utang WIKA maupun WSKT menunjukkan hasil, tekanan beban bunga dapat menyusut dan memberikan ruang pemulihan margin.
Selain itu, proyek-proyek non-IKN seperti jalan tol, kereta logistik, kawasan industri, serta proyek swasta bisa menjadi katalis positif. Namun, prospek pemulihan tetap dibayangi risiko, terutama jika pembayaran pemerintah kembali lambat, APBN menurun, atau siklus suku bunga tetap tinggi.
Secara keseluruhan, PTPP memiliki peluang pemulihan terbaik pada 2026. Sementara, WIKA dan WSKT masih sangat tergantung pada pencairan pembayaran pemerintah dan keberhasilan restrukturisasi. Arinda menyarankan investor untuk memerhatikan saham PTPP dengan target harga Rp 580 per saham.
Sementara itu, Muhammad Wafi dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menyarankan trading buy untuk saham PTPP dan ADHI dengan target harga masing-masing Rp 450 per saham dan Rp 270 per saham.