PTPP Jual Operator Kereta Api Sulawesi ke Solra Energi Rp282 Miliar

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
PTPP Jual Operator Kereta Api Sulawesi ke Solra Energi Rp282 Miliar

Strategi Penataan Portofolio PT PP (Persero) Tbk. dengan Melepas Saham di PT Celebes Railway Indonesia

PT PP (Persero) Tbk., salah satu BUMN Karya yang bergerak di bidang konstruksi, tengah melakukan strategi penataan portofolio investasi dengan melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia (CRI) kepada PT Solra Energi Terbarukan. Transaksi ini dilakukan melalui perjanjian jual beli saham bersyarat antara kedua pihak, dengan nilai transaksi mencapai Rp282,1 miliar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pengumuman mengenai aksi korporasi ini disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia. Dalam pernyataannya, manajemen PTPP menjelaskan bahwa divestasi tersebut mencakup 142.180 saham atau setara dengan 47,81% dari modal ditempatkan dan disetor di CRI. PT Solra Energi Terbarukan adalah perusahaan yang berlokasi di Jakarta dan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan PTPP.

"Nilai rencana transaksi berdasarkan perjanjian jual beli saham bersyarat adalah sebesar Rp282.103.175.000," ujar manajemen PTPP dalam keterbukaan informasi tersebut.

Peran PT Celebes Railway Indonesia dalam Industri Transportasi

PT Celebes Railway Indonesia (CRI) merupakan sebuah badan usaha yang beroperasi dalam bidang transportasi perkeretaapian di Indonesia. Perusahaan ini bertindak sebagai Operator Prasarana Kereta Api, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. CRI bertanggung jawab atas perawatan dan pengoperasian rel kereta api di wilayah tersebut.

Transaksi ini dinilai sejalan dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029 yang menitikberatkan pada fokus pada bisnis inti, efisiensi operasional, serta pertumbuhan berkelanjutan. Penataan portofolio melalui divestasi juga diharapkan dapat meningkatkan arus kas operasional sekaligus mendukung pengembangan usaha pada lini bisnis inti.

"Dana hasil divestasi akan menambah likuiditas perseroan karena berkurangnya utang dan terdapat peningkatan dari sisi profitabilitas karena berkurangnya beban keuangan," kata manajemen PTPP.

Struktur Kepemilikan Saham dan Fokus Bisnis Inti

Saat ini, struktur kepemilikan saham di CRI terdiri atas PTPP sebesar 47,81%, PT Bumi Karsa dengan 25,31%, PT China Communication Construction Engineering Indonesia sebesar 22,50%, dan PT Iroda Mitra sebesar 4,37%. Dengan adanya transaksi ini, PTPP akan kembali fokus pada kegiatan usaha intinya, yaitu konstruksi, gedung, infrastruktur, serta engineering, procurement & construction (EPC), yang menjadi penyumbang lebih dari 80% pendapatan perusahaan.

Kinerja Keuangan PTPP pada Kuartal III/2025

Meskipun fokus pada bisnis inti, kinerja keuangan PTPP pada kuartal III/2025 menunjukkan penurunan. Laba bersih perusahaan mencapai Rp5,55 miliar, turun 97,92% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp267,28 miliar. Pendapatan PTPP juga turun 23,33% year on year (YoY) menjadi Rp10,73 triliun dari sebelumnya Rp14 triliun pada kuartal III/2024.

Pendapatan tersebut berasal dari berbagai segmen, seperti konstruksi senilai Rp8,99 triliun, EPC sebesar Rp781,80 miliar, properti dan real estate sebesar Rp544,46 miliar, pendapatan keuangan atas konstruksi aset senilai Rp247,32 miliar, serta pertambangan sebesar Rp190,21 miliar.

Penurunan pendapatan diikuti oleh efisiensi beban pokok yang menyusut 26,14% YoY menjadi Rp9,12 triliun. Hal ini membuat laba kotor PTPP mencapai Rp1,61 triliun, turun 2,36% dari Rp1,65 triliun pada tahun lalu.

Beban dan Laba Tahun Berjalan

PTPP juga membukukan sejumlah beban, termasuk beban usaha sebesar Rp595,31 miliar, beban keuangan sebesar Rp1,5 triliun, serta beban lainnya sebesar Rp590,24 miliar. Akibatnya, laba tahun berjalan PTPP tersisa hanya Rp15,24 miliar.

Dengan strategi penataan portofolio ini, PTPP berharap dapat memperkuat posisi keuangan dan fokus pada bisnis inti yang lebih menguntungkan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan