
Pengawasan Ketat terhadap Program Makan Bergizi Gratis di Lombok Barat
Satuan Tugas (Satgas) Koordinasi dan Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Lombok Barat melakukan kunjungan ke beberapa sekolah untuk memastikan kualitas dan pengelolaan program tersebut. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah SDN 1 Telagawaru, Kecamatan Labuapi, pada Jumat (3/10). Hasilnya mengejutkan karena banyak makanan yang disajikan tidak habis dimakan oleh siswa.
Pada kunjungan tersebut, ditemukan bahwa puluhan ompreng MBG yang seharusnya dibagikan kepada siswa ternyata tidak habis. Menu yang disajikan meliputi roti tawar dengan saus tomat kemasan, ditambah sepotong ayam fillet dan sayur kacang serta buncis rebus. Menurut Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, Heny Murdiati, hanya sekitar 50 persen dari total ompreng yang dibagikan. Ia menyebut kemungkinan alasan mengapa makanan tidak habis adalah karena anak-anak kurang suka roti atau sayuran.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Mungkin karena anak-anak kurang suka roti dan sayur, jadi masih banyak yang tidak dimakan,” ujar Heny Murdiati saat berkunjung ke sekolah tersebut.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Barat, H. Ilham, menyarankan agar para guru lebih aktif dalam memengaruhi selera anak-anak terhadap makanan bergizi. Ia menekankan pentingnya edukasi gizi kepada siswa, khususnya dalam mengonsumsi sayur-mayur yang kaya akan nutrisi.
“Di situ peran para guru agar memberikan edukasi gizi kepada anak-anak agar mau menyantap makanan, terutama sayur-mayur karena kandungan gizi dalam sayuran sangat tinggi,” ujarnya.
Perbedaan Kondisi di Sekolah Lain
Kejadian ini berbeda dengan kondisi di SDN 2 Montong Are, di mana siswa lebih antusias dalam mengonsumsi MBG. Di sekolah tersebut, SPPG penyedia menyajikan nasi putih dengan lauk sayur, ayam kecap, dan susu. Hal ini menunjukkan bahwa variasi menu dan cara penyajian dapat memengaruhi minat anak-anak dalam mengonsumsi makanan.
Terkait proses pengolahan makanan, H. Ilham mengingatkan pihak SPPG untuk memperhatikan durasi waktu sejak makanan matang hingga disajikan. Ia merujuk pada Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Kementerian Kesehatan yang menyebutkan bahwa makanan tidak boleh disajikan lebih dari tiga jam setelah matang.
“Kemenkes punya SOP. Tidak boleh makanan tidak dimakan lebih dari tiga jam. Jadi SPPG harus memperhatikan itu. Jangan sampai karena terlalu lama sejak matang, justru bisa terkontaminasi,” tegas H. Ilham.
Penanganan Masalah Keracunan
Berdasarkan pengalaman keracunan di beberapa sekolah lain, H. Ilham mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kualitas makanan. Ia menyebutkan bahwa dua hari sebelumnya, Satgas menerima laporan tentang sebuah madrasah yang menerima MBG dengan makanan berbelatung, baik di nasi maupun ayam yang akan dimakan anak-anak.
“Untungnya disadari sejak awal. Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau berakibat fatal bagi anak-anak,” ujarnya dengan nada tinggi.
Pengawasan Rutin oleh Satgas
Dalam kunjungan tersebut, Satgas juga mengunjungi tiga dapur SPPG dan dua sekolah penerima. Selama kunjungan, dua SPPG beroperasi seperti biasa, sedangkan satu SPPG berhenti sementara. H. Ilham menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan sidak dan berkunjung ke sekolah-sekolah penerima MBG.
“Kami akan rutin sidak SPPG dan berkunjung ke sekolah. Kami ingin semua SPPG bertanggung jawab atas MBG yang disajikannya. Program ini sangat mulia. Jangan sampai salah prosedur dan berakibat fatal bagi anak-anak yang menjadi sasaran MBG,” tutup H. Ilham.