
Peran Menteri Keuangan dalam Negosiasi Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keinginannya untuk ikut serta dalam negosiasi yang akan dilakukan pemerintah terkait restukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh dengan Tiongkok. Tujuan dari partisipasinya adalah untuk memastikan bahwa keuangan negara tidak mengalami kerugian yang signifikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebelumnya, Bendahara Negara tersebut pernah menyampaikan bahwa pemerintah mungkin akan mengirimkan tim khusus untuk melakukan negosiasi langsung ke Tiongkok. "Jadi saya bilang kalau nanti mereka (Danantara) diskusi dengan sana (Cina) saya ikut. Saya mau lihat, jangan sampai saya rugi-rugi amat. Tapi kita lihat yang terbaik buat negara ini," ujar Purbaya dalam media briefing di kantor Kementerian Keuangan, Jumat, 14 November 2025.
Secara pribadi, Purbaya tidak ingin utang Whoosh ditanggung oleh anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). "Kalau saya mending enggak bayar," ujarnya. Namun, ia tetap menyerahkan keputusan akhir kepada pemimpin tertinggi, yakni Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah saat ini sedang mengkaji berbagai opsi untuk menangani utang dan kerugian keuangan yang terkait dengan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Berdasarkan diskusi yang sudah dilakukan, pemerintah akan menanggung infrastruktur Whoosh, sedangkan Danantara akan menangani operasional atau sarana kereta. Meski demikian, belum ada keputusan final mengenai skema tersebut.
Proses Restrukturisasi Utang
Akhir Oktober lalu, Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria memastikan bahwa restrukturisasi utang akan selesai dalam tahun ini. Menurut Dony, Danantara akan segera berangkat ke Tiongkok untuk menegosiasikan ketentuan pembayaran pinjaman.
βIni menjadi poin negosiasi kami, berkaitan dengan jangka waktu pinjaman, suku bunga, kemudian juga ada beberapa mata uang yang akan kami diskusikan dengan mereka,β kata Dony kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 23 Oktober 2025.
Biaya dan Pendanaan Proyek Whoosh
Sejak dibangun pada 2016, proyek Kereta Cepat Whoosh telah menelan total biaya sebesar US$ 7,2 miliar atau setara dengan Rp 120 triliun (kurs 16.707 per dolar Amerika Serikat). Proyek ini terdiri atas investasi awal sebesar US$ 6,02 miliar dan pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$ 1,21 miliar.
Dari total pendanaan, sebanyak 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank, sedangkan 25 persen sisanya berasal dari ekuitas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memiliki 60 persen saham KCIC, sementara 40 persen sisanya dimiliki oleh konsorsium Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co Ltd.
Kesimpulan
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi salah satu proyek besar yang membutuhkan pengelolaan keuangan yang sangat hati-hati. Partisipasi aktif Menteri Keuangan dalam negosiasi utang ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas keuangan negara. Meskipun masih dalam proses pengkajian, langkah-langkah yang diambil diharapkan dapat memberikan solusi yang terbaik bagi seluruh pihak terkait.
Anastasya Lavenia dan Han Revanda berkontribusi dalam penulisan artikel ini.