
Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Era SBY dan Jokowi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan menarik mengenai perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, meskipun strategi kedua presiden tersebut berbeda, keduanya menghadapi tantangan serupa dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Dalam forum “1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth” di Jakarta, Kamis (16/10/2025), Purbaya menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi pada masa SBY mampu mencapai rata-rata 6 persen tanpa pembangunan infrastruktur yang masif. Sementara itu, pada masa Jokowi, pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen dengan fokus besar pada belanja pemerintah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Perbedaan utamanya adalah sumber penggerak ekonomi. Jokowi lebih menekankan pada belanja pemerintah, sementara SBY banyak mengandalkan sektor swasta,” ujar Purbaya dalam paparannya.
Kini, sebagai Menteri Keuangan di kabinet Prabowo-Gibran, Purbaya menegaskan akan menggabungkan kekuatan kedua pendekatan tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen, bahkan menargetkan 8 persen pada 2029 sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029.
Dampak Ekonomi yang Dirasakan Masyarakat
Ia mengungkapkan, tekanan ekonomi yang terjadi antara April hingga Agustus 2025 membuat masyarakat merasakan langsung dampaknya. Menurutnya, aksi demonstrasi besar pada akhir Agustus bukan karena instabilitas politik, melainkan akibat tekanan ekonomi yang dirasakan rakyat.
“Kalau kondisi ekonomi tidak segera membaik, demonstrasi akan terus berlanjut karena masyarakat sudah merasa berat hidupnya,” jelasnya.
Langkah Nyata untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Sebagai langkah nyata, Purbaya menempatkan dana pemerintah atau Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp200 triliun di bank-bank Himbara. Tujuannya untuk meningkatkan kredit ke sektor riil dan mempercepat sirkulasi uang di masyarakat.
Ia mengklaim kebijakan ini mulai membuahkan hasil. “Pertumbuhan uang beredar atau base money sudah mencapai 13,2 persen. Ini artinya, dana pemerintah sudah mengalir dengan baik ke sistem keuangan,” kata Purbaya optimis.
Kebijakan yang Akan Terus Dipantau
Ke depan, ia memastikan akan terus memantau efek kebijakan tersebut dan siap menambah injeksi dana bila dampaknya dirasa belum maksimal. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi kuat menuju target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada akhir masa pemerintahan Prabowo-Gibran.
Strategi Masa Depan
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, Purbaya menekankan pentingnya koordinasi antara sektor swasta dan pemerintah. Ia menilai bahwa kolaborasi antara keduanya akan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Selain itu, Purbaya juga berkomitmen untuk terus memperkuat sistem keuangan negara agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Hal ini termasuk peningkatan transparansi dan efisiensi penggunaan anggaran pemerintah.
Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan kerja sama yang solid, Purbaya yakin bahwa Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kesimpulan
Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan bahwa meski setiap presiden memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola ekonomi, tujuan utamanya tetap sama: menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Dengan menggabungkan kekuatan sektor swasta dan pemerintah, serta memperkuat sistem keuangan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada masa pemerintahan Prabowo-Gibran.