
Penjelasan Menpora Erick Thohir Mengenai Putusan IOC
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menyampaikan pernyataan terkait putusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang menyebutkan bahwa Indonesia tidak akan dibekukan. Hal ini disampaikannya dalam sesi konferensi pers di Media Center Kemenpora, Senayan, Jakarta, Jumat (24/10).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kami sudah antisipasi terkait statement yang dikeluarkan oleh International Olimpiade Commite (IOC)."
Erick Thohir menegaskan bahwa posisi pemerintah Indonesia sebagai bagian dari menjaga martabat bangsa sesuai dengan Undang-Undang 1945. Ia juga menyampaikan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Putusan IOC tersebut muncul setelah pemerintah Indonesia tidak menerbitkan visa untuk enam atlet asal Israel jelang Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta. Dalam pernyataannya, Erick Thohir menegaskan bahwa sikap yang diambil pemerintah Indonesia sudah sesuai dengan UUD 1945.
"Langkah ini sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Prinsip ini juga berdasarkan UUD 1945 yang menghormati keamananan dan ketertiban umum dan juga kewajiban Pemerintah Negara Indonesia untuk melaksanakan ketertiban dunia," ujarnya.
Menpora Erick menegaskan bahwa putusan IOC bukan berarti kiamat bagi olahraga Indonesia. Ia menyampaikan bahwa dunia olahraga Indonesia tetap bisa berkembang sesuai blueprint yang telah ditetapkan.
Indonesia Tidak Dibekukan
Erick Thohir menegaskan bahwa Indonesia tidak dibekukan dan masih bisa mengirim atlet untuk sejumlah kejuaraan. Ia meminta dukungan media agar tidak sampai seakan-akan Indonesia tidak bisa mengirimkan atlet.
"Ini yang kita sama-sama, mohon dukungan media, jangan sampai seakan-akan kita dibekukan, tidak bisa mengirimkan atlet. Kami masih melakukan pengiriman atlet," ujar Erick.
Ia juga menyerukan pentingnya musyawarah mufakat untuk menemukan solusi dari persoalan ini. "Kita lihat juga sepertinya IOC memberikan ruang untuk kita bicara, bukan sekedar mengambil garis keras," kata Erick Thohir.
Ruang Diskusi Terbuka
Dalam putusannya, IOC juga meminta kehadiran Komite Olimpiade Indonesia (KOI) serta Federasi Gimnastik Internasional (FIG) untuk datang ke kantor mereka di Lausanne, Swiss. Erick Thohir menyatakan bahwa hal ini bukan sesuatu yang tidak bisa menjadi bahan pembicaraan.
"Tentu ini hal yang saya rasa, bukan sesuatu yang tidak bisa menjadi bahan pembicaraan. Karena beberapa kasus di dunia, tetap kesempatan berdiskusi dengan IOC tentu terbuka," tegas Erick.
Ia juga menegaskan bahwa Kemenpora mendukung KOI untuk terus berbicara, membuka komunikasi, dan mencari jalan keluar. "Ini sesuatu yang masih dalam pembicaraan," lanjutnya.
Rusia Sebut Ada Standar Ganda
Apa yang terjadi kepada Indonesia turut memicu keprihatinan Rusia, yang merasa IOC memberlakukan standar ganda. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan bahwa ada standar ganda dalam putusan IOC.
“Tentu saja ada standar ganda,” kata Peskov kepada saluran olahraga Rusia Match TV, Kamis (23/10/2025).
Menurut Peskov, IOC tidak memberikan putusan serupa terhadap negara-negara yang menolak kehadiran atlet Rusia. Sementara itu, Indonesia yang menolak kehadiran atlet Israel dalam Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025 di Jakarta langsung mendapatkan pernyataan tegas dari IOC.
Empat Keputusan yang Dikeluarkan IOC
Untuk menghindari situasi serupa di masa mendatang, Komite Eksekutif IOC mengeluarkan empat keputusan sebagai berikut:
- Mengakhiri segala bentuk dialog dengan Komite Olimpiade Nasional Indonesia (NOC) mengenai penyelenggaraan Olimpiade, Olimpiade Remaja, ajang Olimpiade, atau konferensi di masa mendatang hingga pemerintah Indonesia memberikan jaminan memadai kepada IOC bahwa mereka akan mengizinkan akses ke Indonesia bagi semua peserta, tanpa memandang kewarganegaraan.
- Merekomendasikan kepada semua Federasi Internasional untuk tidak menyelenggarakan ajang atau pertemuan olahraga internasional apa pun di Indonesia hingga pemerintah Indonesia memberikan jaminan yang memadai kepada Federasi Internasional bahwa mereka akan mengizinkan akses ke Indonesia bagi semua peserta, tanpa memandang kewarganegaraan.
- Mengadaptasi Prinsip Kualifikasi Olimpiade, meminta Federasi Internasional untuk mencantumkan jaminan akses ke negara masing-masing bagi semua atlet dalam perjanjian penyelenggaraan mereka untuk setiap kompetisi kualifikasi Olimpiade di seluruh dunia.
- Meminta NOC Indonesia dan Federasi Senam Internasional (FIG) untuk datang ke markas IOC di Lausanne untuk membahas situasi yang terjadi menjelang Kejuaraan Dunia Senam Artistik FIG ke-53.