Raisa dan Hamish Daud: Sifat Tersembunyi Penyanyi Terungkap di Podcast
Kehidupan rumah tangga Raisa Andriana dan Hamish Daud kini tengah menjadi sorotan publik. Isu perceraian yang muncul belakangan ini membuat banyak orang penasaran dengan dinamika hubungan mereka. Di tengah berbagai spekulasi, sebuah wawancara daring yang pernah diungkapkan oleh Hamish Daud memberikan gambaran baru tentang sifat sebenarnya dari Raisa.
Menurut Hamish, saat sedang marah, Raisa tidak pernah menunjukkan emosi secara berlebihan. Ia justru cenderung diam dan menjaga ketenangan, yang menjadi ciri khasnya. Hal ini menunjukkan bahwa Raisa memiliki cara unik dalam menghadapi konflik.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kalau si Yaya lagi marah, dia gak kayak teriak atau emosi. Dia cuman kayak kurang kelihatan aja sih," ujar Hamish Daud dalam wawancara tersebut. Menurutnya, Raisa lebih memilih untuk menyendiri daripada melakukan tindakan agresif. "Tapi dia nggak ada muka asem. Dia kayak pengen sendiri, dia gak mau masak, atau dia kayak udah di kamar baca sendiri."
Hamish juga mengungkap bahwa dirinya dan Raisa tidak pernah berteriak atau bersikap agresif satu sama lain. Bahkan, ia mengakui bahwa jika merasa salah, ia akan langsung menyadari hal itu. "Aku tahu kalau aku salah aku tahu. Kalau aku salah, dan dia lagi marah, aku tahu," tambahnya.
Selain itu, Raisa juga menegaskan bahwa ia tidak pernah memperlihatkan sikap kesal atau marah secara terbuka. Ia lebih memilih untuk menghindari situasi yang bisa memicu konflik. Saat ditanya siapa yang akan minta maaf duluan jika terjadi kesalahpahaman, Raisa menjawab singkat. "Ya, tergantung siapa yang salah," katanya.
Meski isu perceraian masih menghiasi media, Hamish Daud tetap menyatakan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Ia juga mengungkapkan bahwa ia dan Raisa telah melalui masa-masa sulit akibat fitnah yang sempat muncul. "Sekarang saya cuma pengin jadi bapak yang baik, co-parenting yang baik, dan bisa kerja yang lancar ke depannya," ujarnya.

Agar Anak Tidak Terabaikan
Perceraian antara pasangan suami istri sering kali menimbulkan dampak yang tidak hanya terasa oleh kedua orang tua, tetapi juga oleh anak-anak mereka. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa anak tidak terabaikan baik secara lahir maupun batin.
Anak yang belum cukup dewasa dan masih memerlukan bimbingan orang tua harus diperhatikan agar tidak menjadi korban dari keretakan rumah tangga. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah model pengasuhan paralel (parallel parenting).
Parallel parenting adalah metode pengasuhan anak yang memungkinkan ayah dan ibu yang sudah bercerai untuk mengasuh anak secara bergantian tanpa harus terlibat dalam interaksi intensif satu sama lain. Tujuannya adalah untuk meminimalkan konflik antara orang tua serta menjaga kesejahteraan anak.
Parallel Parenting dan Co-Parenting
Perbedaan utama antara parallel parenting dan co-parenting terletak pada tingkat komunikasi antara orang tua. Co-parenting menekankan kerja sama dan komunikasi teratur antara kedua pihak, sedangkan parallel parenting meminimalkan interaksi dan komunikasi hanya pada situasi yang benar-benar mendesak.
"Co-parenting menekankan pada kerja sama dan berkomunikasi secara teratur agar orangtua bersama-sama memenuhi kebutuhan anak," jelas Joleena Louis, Esq., seorang pengacara hukum keluarga di New York City. Sementara itu, parallel parenting tidak mengharuskan orang tua untuk bekerja sama secara aktif.
Kapan Memilih Parallel Parenting
Parallel parenting biasanya direkomendasikan untuk pasangan yang memiliki konflik satu sama lain dan memiliki risiko konflik tersebut sampai kepada anak. Namun, jika konflik tersebut meluas dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat bagi anak, maka model ini tidak lagi cocok.
Farzad menambahkan bahwa jika salah satu orang tua melakukan kekerasan fisik atau emosional terhadap anak, maka parallel parenting tidak layak digunakan. Dalam kasus seperti ini, orang tua yang tidak melakukan kekerasan harus memiliki hak asuh tunggal atau utama.
Cara Menyusun Parallel Parenting
Untuk menyusun rencana parallel parenting, beberapa hal penting harus diperhatikan:
- Waktu Pengasuhan Setiap Orangtua: Menentukan durasi waktu yang dialokasikan untuk setiap orang tua.
- Jadwal Pertukaran Hak Asuh: Menentukan bagaimana proses pertukaran hak asuh dilakukan.
- Jadwal Liburan: Menyusun jadwal liburan dan langkah-langkah jika terjadi tumpang tindih tanggal.
- Keputusan Penting: Menentukan bagaimana keputusan tentang pendidikan, kesehatan, dan lain-lain dibuat.
- Aturan Komunikasi: Menentukan aturan tentang pembatalan dan penjadwalan ulang waktu pengasuhan.
"Semakin spesifik rencana parallel parenting berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, dan keputusan terkait pendidikan dan waktu pengasuhan, semakin sukses rencana tersebut," kata Farzad.
