
aiotrade,
JAKARTA Laporan terbaru berjudul Global Broadband Price League 2026 menunjukkan bahwa Iran menjadi salah satu negara dengan biaya layanan internet broadband paling murah di dunia. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju yang memiliki rata-rata harga yang sangat tinggi. Di sisi lain, Amerika Serikat mencatatkan rata-rata harga internet sebesar Rp1,67 juta per bulan.
Riset yang dilakukan oleh Broadband Genie mengungkapkan adanya perbedaan signifikan dalam harga layanan internet global. Negara-negara dengan biaya hidup yang lebih rendah biasanya menawarkan tarif internet yang lebih terjangkau dibandingkan negara-negara maju. Di kawasan Amerika Utara, misalnya, biaya langganan broadband tergolong mahal. Rata-rata pelanggan harus membayar sekitar US$98,40 per bulan atau setara dengan Rp1,67 juta.
Khusus untuk Amerika Serikat, harga rata-rata internet broadband berada di kisaran US$80 atau sekitar Rp1,36 juta. Angka ini membuat AS berada di posisi ke-167 dari total 214 negara yang diteliti. Sementara itu, wilayah dengan harga internet paling mahal justru ditemukan di daerah terpencil. Salah satunya adalah Wallis dan Futuna, sebuah kepulauan kecil di Pasifik Selatan. Di sana, biaya internet bisa mencapai US$373,88 per bulan atau sekitar Rp6,36 juta.
Dari total 2.631 paket layanan yang dianalisis di 214 negara, Iran menempati posisi teratas sebagai negara dengan internet termurah. Biaya langganan broadband di negara tersebut hanya sekitar US$2,61 per bulan atau setara dengan Rp44 ribu. Meski harganya terjangkau, akses internet di Iran sering kali dibatasi oleh pemerintah, terutama saat terjadi konflik seperti serangan yang melibatkan AS dan Israel. Selain itu, rendahnya harga juga dipengaruhi oleh melemahnya nilai mata uang lokal terhadap dolar AS.
Di kawasan Eropa, harga internet relatif bervariasi. Inggris berada di peringkat ke-70 dengan rata-rata biaya US$31,43 atau sekitar Rp500 ribu per bulan. Sementara itu, Prancis dan Italia sedikit lebih mahal, dan Jerman bahkan mencatat tarif lebih tinggi sekitar US$47,59 atau sekitar Rp800 ribu.
Negara berkembang umumnya menawarkan harga yang lebih ramah di kantong. Contohnya, Mesir memiliki biaya rata-rata US$7,91 atau sekitar Rp134 ribu per bulan. Beberapa negara Eropa Timur juga masuk dalam daftar termurah, seperti Ukraina di peringkat kedua, Rumania di posisi ketujuh, dan Rusia di posisi kesepuluh.
Menurut Alex Tofts, pakar dari Broadband Genie, ada beberapa faktor yang membuat harga internet di wilayah tersebut lebih murah. Salah satunya adalah biaya hidup yang lebih rendah, sehingga biaya pembangunan dan operasional jaringan juga lebih kecil. "Hal ini menjaga biaya penyebaran tetap rendah dan mencegah inflasi harga," kata Tofts dikutip dari The Register, Jumat (17/4/2026).
Selain itu, tingkat kepadatan penduduk di kota-kota besar memudahkan penyedia layanan untuk menjangkau banyak pelanggan sekaligus dengan biaya yang lebih efisien. Di sisi lain, beberapa negara seperti Rumania justru diuntungkan karena tidak terbebani infrastruktur lama, sehingga bisa langsung mengadopsi teknologi serat optik modern.
Menariknya, di sejumlah wilayah seperti Karibia dan Afrika, masyarakat lebih banyak mengandalkan data seluler dibandingkan broadband tetap. Hal ini membuat layanan internet kabel bukan menjadi pilihan utama dalam konektivitas sehari-hari.