
Penanggulangan Hama Penggerek Batang di Lahan Pertanian Desa Ancaran
Di Desa Ancaran, Kecamatan Kuningan, puluhan hektare tanaman padi mengalami serangan hama penggerek batang. Hal ini memicu tindakan cepat dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan untuk melakukan gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) di lahan pertanian tersebut.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menjelaskan bahwa penggerek batang menyerang varietas Inpari 49. Hasil pengamatan tim teknis menunjukkan bahwa intensitas serangan mencapai rata-rata 12,40%. Oleh karena itu, diperlukan tindakan segera untuk mengendalikan populasi hama tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Penyemprotan dilakukan menggunakan insektisida berbahan aktif Dimehipo 500 gram per liter. Tujuannya adalah untuk menekan populasi larva hama di lapangan. Bantuan insektisida juga telah disalurkan kepada Kelompok Tani Makmur di desa tersebut, khususnya untuk lahan seluas 20 hektare.
”Bantuan ini diharapkan mempercepat upaya pengendalian serentak dan mencegah penyebaran hama ke lahan sekitar,” ujarnya pada Minggu 9 November 2025.
Karakteristik Hama Penggerek Batang
Penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas) merupakan salah satu hama utama yang perlu diwaspadai. Siklus hidupnya sangat cepat dan dapat menyebabkan kerusakan berat pada tanaman. Hama ini meletakkan telur di permukaan daun, lalu larvanya masuk ke batang dan memakan jaringan dalam. Akibatnya, batang mengering, malai tidak keluar, dan hasil panen menurun drastis.
Petani mengenal gejala ini sebagai beluk pada fase vegetatif dan patah malai pada fase generatif. Serangan hama ini dapat menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 30% sampai 40%, bahkan bisa mencapai 70% jika tidak dikendalikan sejak dini.
Pentingnya Gerakan Pengendalian Serentak
Wahyu menekankan pentingnya gerakan pengendalian serentak agar populasi hama tidak berpindah ke lahan sekitar. Jika hanya sebagian petani yang melakukan penyemprotan, hama akan berpindah ke petak lain. Oleh karena itu, ia menyarankan adanya kesadaran kolektif dari para petani.
”Ini harus dilakukan bersama-sama, dengan kesadaran kolektif,” ujarnya.
Pendekatan Pengendalian Terpadu
Selain penyemprotan, Wahyu mengingatkan pentingnya penerapan pengendalian hama terpadu (PHT). Pendekatan ini melibatkan kombinasi antara pengendalian mekanis, biologis, dan kimiawi secara bijak dan ramah lingkungan.
”Kita tidak bisa hanya bergantung pada pestisida kimia. Gunakan secara selektif, tepat dosis, tepat waktu, agar tidak menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya menjaga keberadaan musuh alami hama, seperti laba-laba, capung, dan parasitoid telur Trichogramma. Dengan demikian, sistem ekosistem pertanian tetap seimbang dan berkelanjutan.