Realisasi Investasi Sulawesi Tengah Capai Rp97,61 Triliun Hingga September 2025
Realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu sebesar Rp97,61 triliun. Angka ini menempatkan Sulteng sebagai salah satu daerah dengan kinerja investasi terbaik di tingkat nasional. Sektor industri logam dasar menjadi penopang utama dalam pencapaian tersebut.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah, Moh Rifani Pakamundi, menjelaskan bahwa realisasi investasi hingga triwulan III tahun 2025 ini merupakan hasil dari upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor-sektor strategis.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Dalam tiga tahun terakhir, sektor industri logam dasar selalu menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi di Sulawesi Tengah. Disusul oleh industri kimia dan farmasi,” ujar Rifani saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (31/1/2025) sore.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir, realisasi investasi Sulawesi Tengah selalu melampaui target nasional. Bahkan pada tahun 2024, realisasi investasi mencapai angka Rp131 triliun, sehingga membuat Sulteng berada di peringkat keempat secara nasional dan konsisten berada di lima besar nasional.

Untuk tahun 2025, pemerintah pusat menetapkan target investasi yang cukup ambisius, yakni sebesar Rp160 triliun. Namun, realisasi akhir tahun masih menunggu laporan resmi dari para pelaku usaha yang akan ditutup pada pertengahan Januari 2026.
“Kenaikan target ini memang cukup tinggi, tetapi kami optimistis bisa mendekati bahkan mencapai target tersebut,” kata Rifani.
Dari total realisasi Rp97,61 triliun hingga September 2025, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan nilai Rp91,32 triliun atau sekitar 93,6 persen. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) baru mencapai Rp6,28 triliun atau 6,4 persen.
“PMDN memang masih relatif kecil. Ini menjadi pekerjaan rumah kami agar ke depan investasi dalam negeri bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Masuknya investasi ke Sulawesi Tengah sepanjang 2025 juga berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Tercatat sebanyak 22.329 tenaga kerja Indonesia terserap, dengan sektor industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar sekitar 9.196 orang. Selain itu, sektor industri kimia, farmasi, dan pertambangan juga turut menyerap tenaga kerja.
Secara kewilayahan, Kabupaten Morowali masih menjadi daerah dengan kontribusi investasi terbesar di Sulawesi Tengah dengan nilai sekitar Rp83,17 triliun. Posisi kedua ditempati Kabupaten Morowali Utara sebesar Rp19,13 triliun, disusul Kabupaten Banggai dengan Rp2,19 triliun.
Meski untuk PMA Sulawesi Tengah berada di peringkat kedua nasional di bawah Jawa Barat, Rifani menegaskan Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama nasional untuk investasi hilirisasi pada 2025.
Namun demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan global yang memengaruhi laju investasi, di antaranya penurunan harga dan permintaan nikel serta peralihan teknologi baterai kendaraan listrik dari berbasis nikel (NMC) ke teknologi lithium ferrophosphate (LFP) yang tidak menggunakan nikel.
“Selain itu, banyak proyek besar kita sudah masuk tahap produksi, sementara nilai investasi terbesar biasanya dihitung pada fase pembangunan awal,” jelasnya.
Ke depan, Rifani menegaskan Sulawesi Tengah tidak bisa terus bergantung pada komoditas nikel mentah. Pemerintah daerah mendorong transformasi investasi menuju hilirisasi 2.0, termasuk pengembangan hilirisasi hijau dan klaster baterai kendaraan listrik di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dengan nilai investasi sekitar 3 miliar dolar AS.
Selain itu, diversifikasi investasi juga diarahkan ke sektor agribisnis dan peternakan, seperti pengembangan peternakan sapi dari Vietnam, serta hilirisasi kelapa di Kabupaten Morowali dengan target hingga 500 juta butir per tahun.
“Investasi Sulawesi Tengah tahun 2025 berada pada fase konsolidasi dan pendewasaan. Penurunan tipis yang terjadi masih wajar di tengah kondisi pasar global, namun fundamental ekonomi kita tetap kuat dan menjadi yang terkuat di kawasan Indonesia Timur,” tandas Rifani.