Redenominasi: Turki Berhasil, Zimbabwe Gagal, Sunat 12 Digit

admin.aiotrade 08 Nov 2025 3 menit 15x dilihat
Redenominasi: Turki Berhasil, Zimbabwe Gagal, Sunat 12 Digit

Rencana Redenominasi Uang Rupiah di Indonesia

Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu) telah merancang kebijakan redenominasi mata uang rupiah. Tujuan utama dari rencana ini adalah untuk menyederhanakan nominal uang dengan menghilangkan beberapa angka nol, khususnya tiga angka nol. Dengan demikian, uang Rp1.000 akan menjadi Rp1, dan Rp100.000 akan berubah menjadi Rp100.

Rencana redenominasi ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70 Tahun 2025 (PMK 70/2025), yang ditetapkan pada tanggal 10 Oktober 2025 dan diundangkan pada 3 November 2025. Dalam PMK tersebut disebutkan bahwa penyusunan RUU Redenominasi berada di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kemenkeu. Kerangka regulasi ditargetkan selesai pada 2026, dengan pengesahan RUU ditargetkan pada 2027.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"RUU tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi) merupakan RUU luncuran yang rencananya akan diselesaikan pada tahun 2027," tulis baleid tersebut dikutip pada Jumat (7/11/2025).

Redenominasi merupakan proses penyederhanaan nominal mata uang dengan menghapus beberapa angka nol. Dalam kasus Indonesia, tiga angka nol akan dihapus. Hal ini dilakukan untuk memudahkan transaksi dan pengelolaan ekonomi.

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara di dunia pernah melakukan redenominasi, namun tidak semua kebijakan tersebut berhasil. Berikut ini adalah dua contoh negara yang melakukan redenominasi tetapi dengan hasil yang berbeda.

Turki

Turki tercatat sebagai salah satu negara yang berhasil melaksanakan kebijakan redenominasi dengan menghapus enam angka nol dari mata uang laminya. Pada tahun 2005, pemerintah Turki secara resmi mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira baru.

Nominal yang terlalu besar menyebabkan berbagai kendala dalam pencatatan akuntansi dan statistik nasional, sehingga menyulitkan pengelolaan ekonomi. Inilah yang kemudian mendorong pemerintah Turki untuk melakukan redenominasi.

Kebijakan redenominasi mulai diberlakukan pada 1 Januari 2005, melalui pengenalan mata uang baru bernama “New Turkish Lira” (YTL) dan satuan uang logamnya, “New Kurus” (YKr). Dalam sistem baru ini, 1 YTL setara dengan 100 YKr, atau 1 YTL = 1.000.000 lira lama.

Masa transisi antara mata uang lama dan baru berlangsung selama satu tahun. Sepanjang periode ini, kedua jenis mata uang tetap berlaku bersamaan hingga akhirnya lira lama ditarik secara bertahap dari peredaran pada tahun 2006. Proses transisi berjalan lancar dan terkendali tanpa menimbulkan gejolak nilai tukar.

Zimbabwe

Zimbabwe menjadi contoh nyata kegagalan redenominasi yang berujung pada punahnya mata uang nasional, dolar Zimbabwe. Berikut adalah beberapa tahapan redenominasi yang dilakukan oleh Zimbabwe:

Redenominasi Pertama

Pemerintah Zimbabwe memangkas 3 angka nol di mata uang ZWN seperti di Indonesia. Namun, kebijakan ini tidak efektif karena pemerintah terus menerus mencetak uang baru dalam jumlah besar, menyebabkan inflasi besar-besaran sampai tak terkendali.

Bank sentral tidak memiliki kendali atas inflasi dan bahkan menyebut inflasi sebagai "barang haram". Akibatnya, marak terjadi black market, di mana 1 dolar AS sempat ditukar dengan ZWN 600.000.

Redenominasi Kedua

Kode mata uang dari ZWN menjadi ZWR, dengan rasio ZWN 10.000.000.000 = ZWR 1. Kebijakan ini gagal lagi karena pemerintah tetap mencetak uang secara masif untuk membiayai pemerintahan Presiden Robert Mugabe, sehingga nilai mata uang Zimbabwe semakin anjlok.

Masyarakat sudah muak dan mulai menggunakan mata uang asing seperti dolar AS, Yuan China, hingga Yen Jepang.

Redenominasi Ketiga

Tahun 2029, Zimbabwe mengganti mata uangnya lagi dari ZWR menjadi ZWL, kali ini dengan pemangkasan 12 angka nol. ZWR 1.000.000.000.000 setara dengan ZWL 1. Upaya ini pun gagal total karena ekonomi Zimbabwe sudah sepenuhnya terdolarisasi.

Masyarakat sudah menggunakan dolar AS sebagai alat tukar utama. Mata uang Zimbabwe hancur dan disuntik mati karena sudah tidak digunakan rakyatnya lagi. Bank sentral negara itu menetapkan sejumlah mata uang asing sebagai alat pembayaran yang sah, termasuk dolar AS, rand Afrika Selatan, dan lainnya.

Pertengahan 2015, bank sentral Zimbabwe secara resmi menghentikan peredaran dolar Zimbabwe, menandai berakhirnya mata uang tersebut dan menjadikan dolar AS sebagai mata uang utama.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan