Doa Perdamaian di Tengah Kekacauan Dunia
Di tengam kecemasan dunia akan masa depan yang tidak menentu akibat peperangan, Paus Leo XIV bersama Gereja Katolik memanjatkan doa khusus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada 11 April 2026. Dalam kesempatan ini, para umat dari berbagai belahan dunia berkumpul untuk menyatu dalam doa dan merenungkan pesan perdamaian yang disampaikan oleh Paus.
Romo Markus Solo Kewuta SVD (Padre Marco), pejabat Takhta Suci asal Indonesia, mengajak umat sedunia menyatu dalam doa dan merenungkan seruan Paus tersebut. Ia menekankan bahwa iman dan doa dapat memindahkan gunung. Dengan kata-kata penuh semangat, ia meminta semua orang untuk menyebarkan pesan perdamaian kepada seluruh dunia agar dunia segera kembali kepada perdamaian dan kedamaian sejati. Perang, menurutnya, adalah kekalahan, musuh peradaban dan kesejahteraan bersama.
Doa merupakan bentuk ekspresi iman yang sangat penting. Dalam refleksi Paus Leo XIV, ia menyampaikan bahwa doa adalah jawaban universal dan transformatif terhadap kematian. Ia juga menekankan bahwa doa bukanlah tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab kita. Sebaliknya, doa adalah cara untuk menjawab rasa sakit yang ditimbulkan oleh ketidakadilan.
Paus Leo XIV juga menyampaikan pesan-pesan dari Paus Yohanes Paulus II, yang dikenal sebagai pembela perdamaian. Dalam sebuah doa Angelus pada tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II menyampaikan pesan bahwa tidak ada lagi perang, seperti yang dikatakan oleh Paus Paulus VI selama kunjungan pertamanya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pesan ini masih relevan hingga saat ini, karena dunia tetap menghadapi ancaman perang.
Dalam doa malam untuk perdamaian, Paus Leo XIV menyampaikan bahwa keseimbangan dalam keluarga manusia telah sangat terganggu. Bahkan nama kudus Tuhan, Tuhan kehidupan, diseret ke dalam wacana kematian. Dunia dengan satu Bapa surgawi lenyap seperti dalam mimpi buruk, memberi jalan kepada realitas yang dipenuhi musuh.
Paus Leo XIV juga menekankan bahwa penyembahan diri dan uang, serta pameran kekuasaan, harus dihentikan. Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan. Dengan kesederhanaan Injil, Santo Paus Yohanes ke-23 pernah menulis bahwa manfaat perdamaian akan dirasakan di mana-mana oleh individu, oleh keluarga, oleh bangsa, oleh seluruh umat manusia.
Surat Ensiklik Pacem Interis dari Paus Yohanes 23 nomor 116 menyatakan bahwa tidak ada yang hilang oleh perdamaian, tetapi segala sesuatu dapat hilang oleh perang. Oleh karena itu, marilah kita satukan kekuatan moral dan spiritual jutaan dan miliaran pria dan wanita, muda dan tua yang hari ini memilih untuk percaya pada perdamaian, menyembuhkan luka, dan memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh kegilaan perang.
Paus Leo XIV juga menyampaikan bahwa doa Rosario seperti bentuk-bentuk doa klasik lainnya telah menyatukan kita malam ini dalam ritmenya yang mantap yang dibangun di atas pengulangan perdamaian. Kata demi kata, perbuatan demi perbuatan. Seperti batu yang dikikis setetes demi setetes atau kain yang ditenun jahitan demi jahitan. Ini adalah ritme kehidupan yang lambat. Tanda kesabaran Tuhan.
Dikutip dari pesan Paus Leo ke-14 sendiri untuk hari perdamaian dunia ke-69, 1 Januari 2026. Saudara-saudari dan setiap bahasa, bangsa dan negara, kita adalah satu keluarga yang menangis, berharap, dan bangkit kembali. Tidak ada lagi perang. Perjalanan tanpa kembali. Tidak ada lagi perang. Lingkaran setan kesedihan dan kekerasan.
Paus Leo XIV menutup doa dengan doa untuk perdamaian, yang menyampaikan pesan damai sejahtera Kristus yang bangkit, buah dari pengorbanan kasih-Nya di kayu salib. Tuhan Yesus, Engkau menaklukkan maut tanpa senjata atau kekerasan. Engkau menghancurkan kekuatan-Nya dengan kekuatan damai sejahtera. Berikanlah kepada kami damai sejahteraMu seperti yang Engkau berikan kepada perempuan-perempuan yang penuh keraguan pada pagi hari Paskah. Seperti yang Engkau berikan kepada para murid yang bersembunyi dalam ketakutan. Utuslah Roh-Mu nafas yang memberi hidup dan mendamaikan, yang mengubah musuh dan lawan menjadi saudara dan saudari. Ilhamilah kami untuk percaya kepada Maria, ibumu yang berdiri di kaki salibmu dengan hati yang hancur, teguh dalam iman bahwa Engkau akan bangkit kembali. Semoga kegilaan perang berakhir dan bumi dijaga dan dibudidayakan oleh mereka yang masih tahu bagaimana menumbuhkan, melindungi dan mencintai kehidupan. Dengarkanlah kami ya Tuhan kehidupan. Salam damai sejahtera bagimu semua, bagi bangsa dan negara, bagi dunia kita. Amen.
