
Narso, seorang relawan dari tim Pencarian dan Penyelamatan (SAR) MTA Majelis Tafsir Al-Quran Sumatra Barat, telah berada di lapangan selama tujuh hari. Ia bersama timnya melakukan pencarian korban banjir besar atau galodo yang terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Setiap hari, Narso dan rekan-rekannya bekerja dari pagi hingga malam hari. Mereka harus melewati lumpur dan puing-puing untuk mencari para korban yang masih hilang. Alat utama yang mereka gunakan adalah tongkat pipa dan indera penciuman mereka sendiri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di Nagari Salareh Aia, Palembayan, Kabupaten Agam, medan yang terkena dampak banjir bandang masih sangat labil. Tanah mudah amblas, batu-batu besar bertumpuk tidak teratur, dan kayu-kayu besar menutupi banyak bagian alur sungai.
Narso mengatakan, kondisi ini membuat proses pencarian semakin sulit. “Bekal kami hanya insting dan kejelian mata,” ujarnya saat ditemui di tepian aliran banjir di Nagari Sareh Aia Timur, Sabtu (6/12).
Tongkat pipa yang ia bawa menjadi alat pertama untuk memeriksa tanah atau tumpukan material. Tongkat tersebut memiliki panjang satu meter dan diameter sekitar 4 sentimeter. Jika menemukan bau yang mencurigakan, Narso dan tim akan menandai lokasi tersebut lalu melaporkannya kepada petugas Basarnas untuk dilakukan evakuasi.
Mereka tidak diperbolehkan mengangkat jenazah tanpa perlengkapan pelindung lengkap.
Narso menyebut bahwa banjir bandang kali ini adalah yang paling berat dalam pengalamannya sebagai relawan SAR. Lumpur yang tidak stabil, material besar yang berserakan, dan medan yang terus berubah meningkatkan risiko bagi tim pencarian.
“Ini berat menurut kami. Risikonya tinggi,” katanya.
Situasi pencarian korban banjir bandang di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Sabtu (6/12). (aiotrade)
Menurut Narso, tim di lapangan sangat kekurangan alat bantu untuk mencari korban. Saat ini, tim relawan hanya mengandalkan tongkat untuk menembus tanah demi mencari para korban.
Alat berat menjadi satu-satunya bantuan yang benar-benar efektif untuk membuka jalur atau mengangkat material besar. Selebihnya, pencarian mengandalkan insting.
“Di mana ada bau, kami telusuri. Kalau ada potensi, baru kami hubungi Basarnas,” ujarnya.
Menjadi anggota tim SAR bukanlah profesi utama Narso, yang merupakan seorang petani. Awalnya, informasi mengenai bencana banjir bandang ia dapatkan dari grup WhatsApp. Ia langsung mengumpulkan teman-temannya dan membentuk tim SAR.
Ia mengatakan, profesi ini merupakan panggilan jiwa. Setiap ada bencana alam, Narso selalu siap menjadi relawan tim SAR.
“Bagaimana saya menjelaskannya, hati saya bergerak. Ini panggilan jiwa,” kata warga Kabupaten Dharmasraya itu.