Rencana Parkir Elektronik Pekalongan Ditolak Warga, Khawatir Kehilangan Pekerjaan

Rencana Parkir Elektronik Pekalongan Ditolak Warga, Khawatir Kehilangan Pekerjaan
Rencana Parkir Elektronik Pekalongan Ditolak Warga, Khawatir Kehilangan Pekerjaan

Aksi Demo Juru Parkir di Mie Gacoan Pekalongan

Penerapan sistem parkir elektronik di gerai Mie Gacoan Pekalongan, Jawa Tengah, mendapat penolakan dari para juru parkir setempat. Rencana ini dinilai akan mengancam mata pencaharian mereka yang selama ini terlibat dalam pengelolaan parkir di lokasi tersebut. Demo yang dilakukan oleh puluhan jukir pada Sabtu (11/4/2026) menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil.

Penolakan Terhadap Sistem Vendor

Para juru parkir mengkhawatirkan bahwa penerapan sistem vendor akan mengurangi peran mereka dalam pengelolaan parkir. Aris Susanto, koordinator aksi demo, menyatakan bahwa hanya sebagian kecil dari jukir akan tetap bekerja jika sistem parkir diserahkan kepada pihak ketiga. Ia menilai hal ini merugikan warga lokal yang bergantung pada pendapatan dari pekerjaan tersebut.

Selain itu, para jukir juga khawatir dengan potensi penurunan penghasilan. Saat ini, mereka menerima pendapatan harian yang lebih layak dibandingkan gaji bulanan yang diperkirakan berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan dari vendor. Mereka juga menjalankan tugas tambahan seperti menjaga keamanan dan membantu pengunjung dalam situasi darurat, seperti memanggil ambulans saat ada pelanggan yang pingsan.

Komentar dari Manajemen Mie Gacoan

Manajemen Mie Gacoan Pekalongan menjelaskan bahwa rencana penerapan parkir elektronik dilakukan sebagai respons atas temuan pelanggaran oleh pengelola parkir sebelumnya. Legal Manager Mie Gacoan, Zulkarnaen Akhmad Kurniawan, menegaskan bahwa keputusan ini tidak diambil secara mendadak, melainkan melalui evaluasi panjang sesuai perjanjian kerja sama yang telah disepakati.

Menurut Zulkarnaen, manajemen kini sedang berkomunikasi dengan vendor baru yang dinilai lebih profesional. Namun, pihaknya memastikan bahwa pergantian vendor tidak akan mengabaikan keterlibatan warga sekitar. "Tidak ada pengurangan tenaga kerja. Warga tetap dilibatkan seperti sebelumnya, hanya sistem dan pengelolanya saja yang berubah," tambahnya.

Komitmen untuk Dialog

Zulkarnaen juga menekankan bahwa manajemen tetap membuka ruang dialog dengan vendor lama maupun pihak-pihak terkait guna mencari solusi terbaik yang menguntungkan semua pihak. Ia mengajak para jukir untuk duduk bersama dengan vendor baru dan membahas komitmen ke depan yang lebih baik.

Persyaratan Operasional yang Memadai

Selain isu parkir, manajemen Mie Gacoan juga memastikan bahwa seluruh perizinan terkait operasional telah dipenuhi. Termasuk izin penggunaan air bawah tanah yang sudah terbit. "Alhamdulillah, SIPA sudah terbit. Tidak hanya di satu lokasi, tapi juga di beberapa cabang lain seperti Pekalongan dan Batang," ujarnya.

Terkait pengelolaan limbah, pihaknya menyebut telah memiliki sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana yang sesuai dengan regulasi yang berlaku. "Limbah kami bersifat domestik, bukan B3, dan pengelolaannya sudah mengikuti ketentuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," katanya.