Pendekatan Penanganan Sampah di Hulu Lebih Efektif
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat (Walhi Jabar) menyoroti pentingnya fokus pada penanganan sampah dari hulu, bukan hanya di hilir. Hal ini terkait dengan rencana penerapan teknologi Waste To Energi (WTE) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Menurut M. Jefry Rohman, Manager Divisi Pendidikan dan Koordinator Tim Advokasi Sampah Walhi Jabar, teknologi WTE lebih bersifat sebagai solusi di hilir, sehingga sebaiknya fokus pada pengelolaan sampah di hulu.
Pemilahan sampah menjadi langkah utama dalam penanganan sampah di hulu. Sampah organik yang telah dipilah dapat ditangani melalui komposting, penggunaan maggot, atau biodigester. Dengan cara ini, produksi sampah bisa dikurangi secara signifikan. Sementara itu, sampah nonorganik dapat didaur ulang atau dijual untuk dimanfaatkan kembali.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sampah organik memegang peran penting karena 60 persen sampah di Bandung Raya adalah jenis tersebut. Jefry mencontohkan bahwa PLTSa di luar negeri juga mengolah sampah yang sudah dipilah. Penanganan sampah di hulu dilakukan langsung di sumber produksinya, seperti kawasan komersial, permukiman, dan perkantoran. "Itu lebih efektif," ujarnya.
Jika konsep WTE diterapkan tanpa pemilahan sampah di hulu, berbagai masalah akan muncul. Salah satunya adalah beban biaya yang lebih berat bagi pemerintah akibat proses pengeringan sampah organik. Selain itu, pengolahan segala jenis sampah melalui WTE tanpa pemilahan bisa memengaruhi daya tahan mesin serta umur pakainya. "(Mesin) akan berumur pendek," tambah Jefry.
Dampak lingkungan dan kesehatan juga menjadi perhatian. Metode pembakaran sampah, yang digunakan dalam WTE, tetap memiliki dampak negatif meskipun asap tidak terlihat. Kandungan kimia seperti dioksin, furan, dan timbal bisa merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Selain beban biaya dan dampak lingkungan, penerapan WTE juga akan memberatkan pemerintah daerah yang membuang sampah ke TPA Sarimukti. "Yang paling memberatkan adalah tipping fee, pemerintah daerah harus setor sampah agar mesin terus berputar, berproses, selain itu mereka juga harus membayar biaya pengiriman sampah," jelas Jefry.
Jefry juga mengkritik pendekatan pemerintah dalam mengatasi sampah yang cenderung menggunakan pendekatan proyek atau pengadaan mesin/teknologi. Pendekatan ini dinilai berpotensi menjadi lahan korupsi. "Pendekatan dari dulu selalu pendekatan proyek, bahkan KPK mewanti-wanti kalau segala sesuatu dijadikan proyek, indikasi korupsi terbuka lebar," ujarnya.
Menurut Jefry, munculnya wacana penerapan WTE di Sarimukti menunjukkan ketidakpastian pemerintah dalam menentukan tempat pengelolaan sampah setelah rencana pembangunan PLTSa di TPPAS Legoknangka belum jelas kelanjutannya.

Rencana penerapan WTE di Sarimukti sempat muncul dalam pemberitaan. Ketua Komisi I DPRD Jabar Rahmat Hidayat Djati mengapresiasi dan mendorong Pemprov Jabar dalam penerapan konsep aglomerasi proyek WTE di Sarimukti. Namun, pantauan menunjukkan bahwa timbunan sampah di zona lima atau area perluasan TPA Sarimukti semakin meninggi. Bahkan, timbunan sampah sudah melampaui tinggi alat berat dan truk pemangku sampah.