Rencana Penggabungan Unilever-McCormick Memicu Ancaman Mogok Buruh

Rencana Penggabungan Unilever-McCormick Memicu Ancaman Mogok Buruh

Penggabungan Bisnis Unilever dan McCormick: Langkah Besar dengan Protes Karyawan

Unilever resmi mengumumakan penggabungan divisi makanannya bersama produsen rempah asal Amerika Serikat (AS), McCormick & Company, pada Selasa (31/3/2026). Penggabungan ini menciptakan perusahaan baru dengan nilai investasi mencapai 65 miliar dolar AS (Rp1,1 kuadriliun), yang diprediksi akan mendominasi pasar bahan makanan di seluruh dunia. Namun, langkah bisnis ini langsung disambut dengan gelombang protes dari puluhan ribu karyawan Unilever di wilayah Eropa.

Detail Pembagian Kepemilikan

Transaksi ini menggunakan sistem Reverse Morris Trust (RMT) agar pembayaran pajak di AS lebih hemat. Dalam kesepakatan ini, Unilever akan menerima uang tunai sebesar 15,7 miliar dolar AS (Rp266,83 triliun) dan memegang 65 persen saham di perusahaan baru tersebut. Sisanya, sebesar 35 persen, akan dimiliki oleh pemegang saham McCormick. Perusahaan raksasa ini akan mengelola merek-merek terkenal seperti mayones Hellmanns, kaldu Knorr, saus Cholula, dan mustard Maille.

"Bersama-sama, kami akan lebih kuat dalam mempercepat pertumbuhan bisnis. Kami menggabungkan inovasi dan jaringan penjualan global dari dua perusahaan yang memiliki budaya kerja yang serasi," kata CEO McCormick, Brendan Foley.

Perusahaan hasil merger ini ditargetkan meraup pendapatan 20 miliar dolar AS (Rp339,92 triliun) per tahun. Kantor pusat utamanya akan berada di Maryland, AS, sementara kantor pusat kedua di Belanda akan fokus pada riset. Kesepakatan ini direncanakan selesai pada pertengahan 2027, namun tidak mencakup bisnis Unilever di India, Nepal, dan Portugal. Merger ini juga diharapkan bisa menghemat biaya operasional hingga 600 juta dolar AS (Rp10,19 triliun) pada tahun ketiga.

"Langkah ini adalah bagian dari upaya kami untuk menjadikan Unilever perusahaan yang lebih sederhana dan fokus pada pertumbuhan. Kami ingin sepenuhnya fokus pada produk kecantikan, kesehatan, dan perawatan tubuh," ujar CEO Unilever, Fernando Fernandez.

Pekerja di Eropa Ancam Demo karena Takut Ada Pemutusan Hubungan Kerja

Dewan Pekerja Eropa Unilever (UEWC), yang mewakili sekitar 20 ribu karyawan di Eropa dan Inggris, takut merger ini akan berujung pada PHK massal. Adanya target penghematan biaya yang sangat besar membuat serikat pekerja curiga perusahaan akan memangkas jumlah staf di pabrik dan bagian administrasi.

"Kami sangat khawatir transaksi ini akan diikuti dengan pengurangan karyawan. Saat ini, para pekerja merasa sangat tidak tenang dengan masa depan mereka," kata perwakilan UEWC.

Konflik ini diprediksi akan semakin panas jika perusahaan tidak segera memberikan jaminan tertulis untuk melindungi nasib pekerja. Serikat pekerja di berbagai negara sudah bersiap melakukan perlawanan, mulai dari perundingan hingga aksi mogok di pabrik-pabrik besar.

"Situasi ini bisa berujung pada aksi mogok kerja di berbagai negara, tergantung pada aturan hukum yang berlaku di wilayah Eropa," ujar Ketua UEWC, Hermann Soggeberg.

Unilever Pilih Fokus Berjualan Produk Kecantikan dan Perawatan Tubuh

Pelepasan divisi makanan ini adalah strategi CEO Fernando Fernandez untuk mengubah Unilever menjadi perusahaan yang hanya fokus pada produk perawatan rumah dan tubuh. Sektor ini dianggap lebih menguntungkan dan punya masa depan cerah. Keputusan ini juga dipengaruhi oleh masukan investor serta tren pasar yang mulai meninggalkan makanan olahan.

"Bagi Unilever, ini adalah langkah penting untuk memperkuat bisnis. Kami ingin menjadi perusahaan yang fokus di bidang kecantikan dan perawatan tubuh dengan target pendapatan mencapai 39 miliar euro (Rp662,84 triliun)," kata Fernandez.

Meski rencana ini besar, harga saham Unilever justru turun 7 persen saat pengumuman dilakukan. Para investor dan analis ragu perusahaan bisa menggabungkan dua bisnis raksasa ini tanpa gangguan operasional.

"Pasar belum menyambut baik berita ini karena masih banyak ketidakpastian soal aturan pemerintah. Selain itu, menyatukan bisnis makanan yang sangat besar ke dalam struktur baru adalah tantangan yang berat," ujar Chris Beckett, seorang analis saham.

Penutup

Merger antara Unilever dan McCormick & Company menandai perubahan besar dalam industri makanan global. Meskipun memiliki potensi besar, langkah ini juga membawa tantangan, terutama terkait dampak terhadap karyawan dan stabilitas pasar. Dengan konflik yang muncul, Unilever harus segera menunjukkan komitmen terhadap karyawan dan transparansi dalam proses penggabungan.