
Peran Ulama dan Santri dalam Membangun Kehidupan Berbangsa
Wakil Presiden ke-13, Ma'ruf Amin, melalui Forum Musyawarah Ulama & Santri (Formula Santri), menciptakan wadah yang mampu mengumpulkan berbagai organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Tujuan utamanya adalah untuk menangkal dampak negatif dari era post truth atau zaman yang penuh dengan berita palsu dan informasi yang tidak jelas.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada hari Kamis (23/10) sore, Ma'ruf Amin meresmikan lembaga Formula Santri di kompleks Masjid Istiqlal Jakarta. Dalam acara tersebut, hadir juga Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar. Acara ini dilaksanakan dalam momen peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang jatuh pada tanggal 22 Oktober.
Formula Santri merupakan gagasan langsung dari Ma'ruf Amin. Ia menegaskan bahwa lembaga ini tidak terkait dengan politik praktis. Tujuan pendirian Formula Santri adalah untuk membangun koneksi serta memperkuat peran ulama, kiai, cendekiawan Muslim, dan santri. Tujuannya adalah bersama-sama menjawab tantangan global di berbagai sektor, bukan hanya masalah keislaman tetapi juga kebangsaan, pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.
"Kiai harus lebih mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Ma'ruf Amin. Mantan Ketua Umum MUI ini menyatakan bahwa kiai harus mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat di era post truth, yang ia sebut sebagai zamanul iltibas. Zaman yang penuh kesamaran, distrupsi, dan hoaks.
Ma'ruf menjelaskan bahwa Formula Santri bukanlah ormas atau organisasi yang terafiliasi dengan politik. "Namun, tempat mudzakarah dan berkumpulnya ulama, kiai, dan para santri untuk membahas permasalahan yang terjadi di masyarakat agar tidak tersesat," tambahnya.
Lebih lanjut, Ma'ruf menekankan bahwa Formula Santri menjadi wadah atau tempat silaturrahim antara kiai lintas generasi dan lintas organisasi. Tidak hanya NU dan Muhammadiyah saja, tetapi semua ormas keagamaan Islam. "Ulama, kiai, dan santri harus menjadi fa'il. Bukan maf'ul bihi. (Kiai harus) Memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam berbagai sendi kehidupan," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menag Nasaruddin Umar menyambut baik hadirnya Formula Santri. "Formula Santri semoga bisa memberikan pencerahan kepada umat tentang Islam washatiyah," katanya. Baginya, ketika semakin banyak ulama, kiai, dan santri yang turun langsung membersamai umat, maka akan menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai, tentram, dan sejahtera.
Deklarasi Formula Santri
Pada acara tersebut, Ketua Formula Santri Arif Fahrudin bersama KH. Dr. Irfan Zindy membacakan lima butir deklarasi. Pertama, meneguhkan ukhuwah dan persaudaraan, lintas pesantren dan lintas generasi, dalam rel Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kedua, menghidupkan tradisi keilmuan dan adab, sebagaimana diwariskan oleh para guru dan salafus shalih.
Ketiga, menjawab tantangan zaman dengan panduan Al-Qur’an, Sunnah, dan kebijaksanaan turats Islam Nusantara. Keempat, mendorong kemandirian santri, agar mampu menjadi pelita masyarakat dalam dakwah, pendidikan, dan ekonomi umat. Terakhir, menjaga marwah ulama dan pesantren, sebagai benteng aqidah, akhlak, dan kemuliaan bangsa.
"Formula Santri bukan sekadar wadah, melainkan gerakan hati dan pikiran, untuk menghidupkan kembali ruh keislaman di tengah umat," kata Arif. Dia menegaskan bahwa Formula Santri bergerak untuk umat, bangsa, dan negara. Supaya bisa menciptakan kehidupan masyarakat yang berakhlak dan beradab dalam bingkai Indonesia.