Review saham perbankan 2025: Bank digital berkembang, bank besar tertinggal

admin.aiotrade 30 Des 2025 3 menit 12x dilihat
Review saham perbankan 2025: Bank digital berkembang, bank besar tertinggal


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Pergerakan Saham Bank di Akhir Tahun 2025

Pada akhir tahun 2025, pergerakan saham bank menunjukkan tren yang beragam. Saat sebagian bank besar mengalami penurunan, bank digital justru mencatatkan kenaikan signifikan. Pada perdagangan terakhir tahun ini, Selasa (30/12/2025), beberapa saham bank digital menjadi pemenang dalam pergerakan harian.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Saham PT Allo Bank Indonesia Tbk ( BBHI ) menjadi yang teratas dengan kenaikan sebesar 3,47% menjadi Rp 1.490. Diikuti oleh saham PT Bank Amar Indonesia Tbk ( AMAR ) yang naik 2,80% menjadi Rp 220, serta PT Super Bank Indonesia Tbk ( SUPA ) yang melonjak 2,75% menjadi Rp 935. Sementara itu, saham PT Bank Neo Commerce Tbk ( BBYB ) juga mengalami kenaikan 2,13% menjadi Rp 480.

Di sisi lain, bank-bank besar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk ( BBNI ) memimpin kenaikan harian dengan kenaikan 2,58% menjadi Rp 4.370. PT Bank Central Asia Tbk ( BBCA ) dan PT Bank Mandiri Tbk ( BMRI ) masing-masing naik 0,62% dan 0,49%. Namun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk ( BBRI ) mengalami penurunan sebesar 3,17% menjadi Rp 3.660.

Tren Sejak Awal Tahun 2025

Secara keseluruhan, BBNI masih menjadi bank besar yang mencatatkan pertumbuhan positif pada tahun ini dengan kenaikan 0,46%. Sementara itu, BBCA turun 16,54%, BMRI koreksi 10,53%, dan BBRI turun 10,29%.

Bank digital lebih unggul dalam pertumbuhan. Secara year-to-date (ytd), PT Bank Neo Commerce Tbk ( BBYB ) mencatatkan pertumbuhan sebesar 120,18%. PT Allo Bank Indonesia Tbk ( BBHI ) juga melonjak 112,86%, sedangkan PT Bank Amar Indonesia Tbk ( AMAR ) tumbuh 15,18%. Bahkan, PT Bank Aladin Syariah Tbk ( BANK ) naik 15,15% menjadi Rp 950.

Selain itu, PT Bank Permata Tbk ( BNLI ) menjadi saham bank yang mengalami kenaikan tertinggi sepanjang tahun 2025 dengan kenaikan 444,97% menjadi Rp 5.150. Capaian ini membuat BNLI jauh di atas bank lapis dua lainnya.

Kinerja Bank Lapis Dua

Bank lapis dua juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Beberapa bank berhasil mencatatkan pertumbuhan, seperti PT Bank OCBC NISP Tbk ( NISP ) yang naik 4,18% menjadi Rp 1.370, PT Bank CIMB Niaga Tbk ( BNGA ) yang naik 3,47% menjadi Rp 1.790, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk ( BBTN ) yang meningkat 3,07% menjadi Rp 1.175.

Namun, sejumlah bank lapis dua mengalami penurunan signifikan. PT Bank Syariah Indonesia Tbk ( BRIS ) turun 18,32% menjadi Rp 2.230, PT Bank Jago Tbk ( ARTO ) koreksi 18,72% menjadi Rp 1.975, dan PT Bank Pan Indonesia Tbk ( PNBN ) turun 41,94% menjadi Rp 1.080.

Analisis dari Pakar Investasi

Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut bahwa perbankan melakukan penyesuaian strategi pada tahun ini. Fokus utama adalah efisiensi biaya, kualitas aset, dan penguatan modal. Hal ini menjaga stabilitas laba meski pertumbuhan kredit terbatas.

Menurut Hendra, bank besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI masih mendominasi dari sisi laba bersih maupun pembagian dividen. Ini menjadi sentimen positif bagi ketiganya ke depan.

Dari sisi pergerakan saham, Hendra menilai 2025 sebagai tahun yang selektif. BMRI tercatat stabil karena pemulihan proyek infrastruktur dan kredit korporasi. Sebaliknya, BBCA dan BBRI mengalami tekanan jual asing menjelang akhir tahun. Namun, Hendra menegaskan bahwa tekanan tersebut lebih teknikal daripada fundamental.

Prospek Tahun 2026

Memasuki 2026, Hendra memandang prospek sektor perbankan tetap konstruktif. Meskipun ada tantangan, ekspektasi penurunan suku bunga bisa membuka peluang akselerasi pertumbuhan kredit. Bank besar tetap menjadi pilihan defensif karena skala bisnis, basis dana murah, dan konsistensi dividen.

Ia memprediksi BBCA akan menjadi jangkar stabilitas portofolio, sementara BMRI berpeluang menjadi penopang pertumbuhan jika ekspansi kredit korporasi kembali menguat. Adapun BBRI dinilai memiliki peluang pemulihan jika kualitas aset dan risiko membaik.

Di sisi lain, bank digital dan bank lapis dua akan menghadapi tantangan seleksi pada 2026. Bank digital harus meningkatkan pendapatan berbasis komisi dan menunjukkan jalur profitabilitas. Sedangkan bank lapis dua dengan katalis jelas seperti konsolidasi atau efisiensi berpeluang menarik minat investor.

Strategi 2026 tetap selektif. Bank besar cocok untuk fondasi portofolio, sementara peluang taktis bisa diambil pada bank yang memiliki katalis pertumbuhan terukur.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan