
Proyek Strategis Nasional Terancam Mangkrak
Sejumlah proyek strategis nasional (PSN) di Indonesia kini menjadi perhatian masyarakat lantaran terancam mangkrak. Berdasarkan data yang dikumpulkan, beberapa proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, MRT Fase II, Kereta Semi Cepat Jakarta–Surabaya, hingga Tol Trans Sumatera tahap II disebut mengalami berbagai kendala dalam pembangunan.
Beberapa masalah utama yang menyebabkan penundaan proyek tersebut antara lain pembebasan lahan, lemahnya perencanaan, serta kendala pembiayaan. Selain itu, proyek infrastruktur lain seperti Pelabuhan Ambon, Tol Getaci, Bendungan di Sarolangun Jambi, dan Jalan Akses Ujung Jabung juga mengalami penundaan dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian pembangunan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kondisi ini memicu kekhawatiran publik terhadap efektivitas penggunaan anggaran negara, terutama di tengah beban fiskal yang meningkat. Infrastruktur selama ini dianggap menjadi tumpuan utama pemerintah dalam mempercepat pemerataan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, sempat menegaskan bahwa APBN seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar membiayai proyek fisik. Dalam rapat kerja Komite IV DPD RI di Senayan, Jakarta, pada Kamis, 6 November 2025, ia menyampaikan bahwa tujuan dari seluruh kegiatan pemerintah adalah membuat masyarakat menjadi lebih sejahtera.
APBN Harus Jadi Mesin Kesejahteraan
Purbaya menambahkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari banyaknya proyek besar atau orang kaya baru, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat luas. Ia juga menyoroti pentingnya ekonomi yang inklusif dan merata sesuai dengan mandat Presiden Prabowo.
“Kalau saya sendiri sudah kaya, tapi sebagian besar masyarakat kita tidak begitu. Itu bukan keberhasilan kalau yang kaya cuma sedikit,” tegasnya.
Menurutnya, infrastruktur tetap penting, namun hasil akhirnya harus mampu mengangkat kesejahteraan rakyat. Menkeu Purbaya mengajak seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat untuk bergotong royong menjaga arah pembangunan nasional.
Rhenald Kasali: Mega Proyek Harus Lihat Jangka Panjang
Praktisi bisnis dan akademisi, Prof. Rhenald Kasali, menyoroti proyek-proyek raksasa yang berpotensi mangkrak, salah satunya mega proyek Meikarta yang disebut nilai investasinya mencapai Rp278 triliun. Dalam unggahan YouTube pribadinya, Rhenald menilai proyek tersebut mencerminkan lemahnya kesinambungan antar-pemerintahan serta indikasi penyimpangan yang membuat proyek besar berhenti di tengah jalan.
“Bagaimana kabarnya Meikarta? Itu dulu 278 triliun investasinya. Ini Indonesia ingin maju tapi juga membiarkan segala sesuatu mangkrak,” ujarnya dalam siniar YouTube Prof. Rhenald Kasali, pada Senin, 10 November 2025.
Rhenald menegaskan, mega proyek seharusnya tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini, tetapi dirancang untuk masa depan.
Belajar dari Geliat Infrastruktur China
Guru Besar Ilmu Manajemen ini kemudian mencontohkan keberhasilan China dalam membangun infrastruktur besar yang kini menopang pertumbuhan ekonominya. Rhenald mengisahkan pengalamannya dua dekade lalu saat mengunjungi China. Ia mengaku telah menyaksikan negara itu membangun infrastruktur berskala besar meski belum digunakan secara optimal saat itu.
Kini, hasilnya terasa dengan kemajuan pesat ekonomi negeri tirai bambu tersebut. “Saya masih ingat, 20 tahun yang lalu ketika pergi ke Cina, kita bisa menyaksikan infrastruktur besar saat itu tidak ada di jalanan. Sekarang bukan hanya jalanan yang besar, ada jembatan besar, saluran airnya sampai gorong-gorongnya besar sekali.”
Rhenald menilai, Indonesia perlu mengambil pelajaran dari visi jangka panjang tersebut. Menurutnya, infrastruktur yang kini terbengkalai justru bisa menjadi penggerak ekonomi jika dikelola dengan konsisten dan bebas dari kepentingan politik jangka pendek.