
Potensi Besar Energi Terbarukan di Indonesia
Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$ 19 miliar per tahun atau setara Rp 318,9 triliun (kurs Rp16.790 per US$) untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan (EBT). Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyatakan bahwa kebutuhan investasi ini sejalan dengan meningkatnya urgensi penggunaan energi bersih di tengah krisis iklim yang semakin nyata.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Eddy menekankan bahwa pengembangan EBT merupakan target yang harus dicapai karena Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari energi angin, surya, air, hingga panas bumi. Namun, pemanfaatan potensi tersebut membutuhkan investasi dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
“Kebutuhan untuk pengembangan 10 tahun yang akan datang, kita membutuhkan dana investasi hampir US$190 miliar atau kurang lebih Rp3.400 triliun. Artinya setiap tahun kita harus menyiapkan investasi hampir US$19 miliar,” ujar Eddy dalam Diskusi Media Refleksi Akhir Tahun 2025 di Jakarta, Senin (29/12).
Nilai investasi yang besar ini disebut Eddy sejalan dengan dampak ekonomi yang akan dihasilkan juga. Ia menyebut investasi di sektor EBT berpotensi menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan kerja baru, sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Selain itu, investasi EBT juga dinilai mendorong lahirnya ekonomi baru berbasis karbon. Eddy mengatakan Indonesia kini telah memiliki payung hukum untuk pengembangan ekonomi karbon melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025.
Rencana Pengembangan EBT yang Terstruktur
Dalam kesempatan yang sama, Eddy menjelaskan pemerintah telah menyusun peta jalan pengembangan EBT yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang disusun oleh PT PLN (Persero). Dalam RUPTL tersebut, ditetapkan rencana penambahan kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 70 gigawatt (GW), dengan 52 GW di antaranya berasal dari energi baru terbarukan.
“Kita punya kesempatan yang besar sekali untuk bisa mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan ini, menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan green jobs, menciptakan perekonomian dan manufaktur Indonesia yang memiliki dampak yang cukup besar,” kata Eddy.
Menurut Eddy, peluang Indonesia di sektor energi terbarukan sangat besar karena memiliki potensi sumber daya yang melimpah.
“Indonesia tercatat memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, potensi energi surya mencapai sekitar 3.300 gigawatt,” kata dia. “serta peluang besar dari energi angin, arus laut, hingga sumber energi baru seperti waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi.”
Tantangan dan Peluang di Sektor EBT
Meski minat investor global terhadap sektor energi terbarukan di Indonesia cukup tinggi, Eddy menyebut Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang juga agresif mengembangkan energi terbarukan.
Percepatan perizinan, konsistensi kebijakan, serta koordinasi yang lebih efisien antar kementerian dan lembaga menjadi kunci agar investor tidak ragu menanamkan modalnya di Indonesia.
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan antara lain:
- Peningkatan transparansi dan efisiensi proses perizinan
- Konsistensi kebijakan yang mendukung pengembangan EBT
- Kolaborasi antar lembaga pemerintah dan swasta untuk menciptakan lingkungan investasi yang kondusif
Dengan komitmen yang kuat dan strategi yang tepat, Indonesia dapat memaksimalkan potensi energi terbarukannya dan menjadi salah satu pemimpin dalam pengembangan energi bersih di kawasan Asia Tenggara.