PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) telah mengungkapkan perannya dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh. Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menjelaskan bahwa perseroan memiliki dua peran utama dalam proyek ini.
Peran sebagai Investor
Pertama, WIKA bertindak sebagai investor. Dalam kapasitas ini, perusahaan melakukan penyertaan modal di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar Rp 6,1 triliun atau setara dengan 32% dari total saham PSBI. Penyertaan modal ini dinilai memiliki dampak paling signifikan karena proyek Whoosh masih mengalami kerugian akibat pendapatan tiket yang belum sesuai dengan rencana awal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Agung menyampaikan hal tersebut saat berbicara dalam Public Expose WIKA pada Rabu (12/11/2025). Ia menegaskan bahwa kondisi keuangan proyek ini masih memerlukan penyelesaian lebih lanjut untuk mencapai target yang direncanakan.
Peran sebagai Kontraktor Lokal
Kedua, WIKA berperan sebagai satu-satunya kontraktor lokal yang tergabung dalam konsorsium bersama beberapa kontraktor lainnya dalam PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Sebagai kontraktor, WIKA menangani sekitar 25% porsi konstruksi bawah atau fondasi, termasuk pekerjaan timbunan dan galian tanah.
Selama proses pembangunan, WIKA memiliki klaim atas cost overrun senilai Rp 5,01 triliun. Klaim ini telah masuk sebagai piutang dalam penyelesaian kontrak (PDPK) dan sedang diajukan kepada KCIC.
Proses Dispute dan Tantangan
Agung mengungkapkan bahwa WIKA sedang menangani proses dispute terkait klaim tersebut. Jika tidak disetujui, proses ini bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan. Saat ini, pengajuan klaim sedang diproses di Singapore International Arbitration Centre (SIAC).
Sebagai hasil dari proses ini, WIKA sedang menunggu penyelesaian polemik terkait proyek Whoosh. Salah satu opsi yang mungkin terjadi adalah pengambilalihan investasi oleh pemerintah dari empat pemegang saham PSBI, yaitu PT Kereta Api Indonesia (KAI), WIKA, PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PTPN.
“Kami sedang menunggu. Jika ini diambil alih oleh pemerintah, akan berdampak positif bagi WIKA,” ujar Agung.
Kondisi Keuangan WIKA
Dalam laporan keuangan kuartal III 2025, WIKA mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,21 triliun. Angka ini jauh berbeda dibandingkan laba bersih sebesar Rp 741,43 miliar pada kuartal III tahun lalu. Beberapa beban keuangan WIKA meningkat selama periode ini. Salah satunya adalah pos bagian rugi pengendalian bersama yang naik dari Rp 669,64 miliar menjadi Rp 1,1 triliun per kuartal III 2025.
Di samping itu, laporan keuangan tanggal 30 September 2025 juga mencatat bahwa KSO WIKA-CRIC-CRDC-CREC-CRSC mencatat saldo PDPK atas proyek High Speed Railway Jakarta-Bandung milik KCIC sebesar Rp 5,01 miliar. Ini merupakan klaim atas cost overrun yang sedang diproses.