Kesalahan Viral dalam Siaran Langsung KTT ASEAN ke-47
Pada siaran langsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Malaysia, terjadi kesalahan yang menarik perhatian publik. Salah satu lembaga penyiaran negara, Radio Televisyen Malaysia (RTM), mengalami kekeliruan dalam menyebut nama Presiden Republik Indonesia. Kesalahan ini terjadi saat acara penyambutan para pemimpin negara-negara ASEAN sedang berlangsung.
Peristiwa yang Menjadi Sorotan

Insiden tersebut terjadi saat RTM sedang meliput sesi penyambutan para kepala negara di Pusat Konvensyen Kuala Lumpur (KLCC). Saat giliran Presiden Indonesia tiba, komentator RTM secara keliru menyebutkan nama Joko Widodo sebagai presiden RI, padahal saat itu Presiden Indonesia adalah Prabowo Subianto. Kesalahan ini terdengar jelas di tengah sorak-sorai penonton dan langsung terekam oleh kamera siaran.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Presiden Prabowo Subianto, yang baru saja memasuki tahun pertama masa jabatannya pada 20 Oktober 2025, turun dari mobilnya dan berjabat tangan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Meskipun kejadian ini berlangsung singkat, ia tetap tampak tenang dan tidak menunjukkan reaksi yang terlalu keras terhadap kesalahan tersebut.
Respons RTM atas Kesalahan yang Terjadi
Setelah insiden viral ini menyebar di media sosial, RTM segera merespons dengan mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam pernyataan tersebut, RTM menyatakan bahwa mereka menanggapi serius masalah ini dan telah mengambil tindakan yang sesuai.
"Berdasarkan investigasi internal, terdapat kesalahan dari komentator siaran yang menyebut Presiden Indonesia sebagai Joko Widodo, padahal Presiden Indonesia saat ini adalah Prabowo Subianto," tulis RTM dalam pernyataan mereka.
RTM juga menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden dan pemerintah Indonesia, serta seluruh pihak yang terdampak atas kesalahan ini. Selain itu, mereka berjanji untuk terus memperkuat kontrol editorial dan verifikasi fakta agar informasi yang disampaikan lebih akurat dan berintegritas.
Evaluasi dan Tindakan yang Diambil
Kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi RTM. Dalam pernyataan resmi mereka, RTM menjelaskan bahwa mereka akan meningkatkan pengawasan terhadap setiap materi yang disiarkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kesalahan seperti ini tidak terulang lagi.
Pernyataan lengkap RTM berbunyi:
"KUALA LUMPUR, 26 Oktober 2025 - Jabatan Penyiaran Malaysia memohon maaf atas kesilapan yang berlaku dalam siaran langsung RTM sempena Sidang Kemuncak ASEAN Ke-47 dan sidang-sidang berkaitan di Pusat Konvensyen Kuala Lumpur (KLCC). Berdasarkan siasatan dalaman, terdapat kesilapan oleh pengulas siaran yang telah menyebut nama Presiden Republik Indonesia sebagai Joko Widodo, sedangkan Presiden Republik Indonesia yang terkini ialah Prabowo Subianto. Pihak RTM memandang serius perkara ini dan tindakan sewajarnya telah diambil. RTM dengan ini memohon maaf kepada Presiden dan Kerajaan Republik Indonesia, serta semua pihak yang terkesan akibat kesilapan ini. RTM juga akan terus meningkatkan kawalan editorial dan semakan fakta bagi memastikan setiap maklumat yang disampaikan adalah tepat serta berintegriti."
Reaksi Publik dan Media Sosial
Insiden ini segera menjadi topik pembicaraan di berbagai platform media sosial seperti X (Twitter) dan TikTok. Netizen Indonesia dan Malaysia mulai bercanda mengenai kesalahan ini, dengan beberapa netizen menyebutnya sebagai "efek Jokowi yang masih melekat" atau "transisi kepresidenan yang terlalu cepat untuk diingat." Meski begitu, banyak pihak menilai bahwa RTM telah bertindak cepat dan transparan dalam menangani masalah ini.
Kesimpulan
Kesalahan dalam penyiaran RTM ini menjadi pengingat penting tentang pentingnya verifikasi fakta dan pengawasan editorial dalam siaran langsung. Meski insiden ini terjadi, RTM telah menunjukkan komitmen untuk memperbaiki diri dan memastikan kualitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat.