RTM Malaysia Minta Maaf Setelah Salah Sebut Nama Presiden Prabowo Jadi Joko Widodo di KTT ASEAN 2025

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
RTM Malaysia Minta Maaf Setelah Salah Sebut Nama Presiden Prabowo Jadi Joko Widodo di KTT ASEAN 2025
RTM Malaysia Minta Maaf Setelah Salah Sebut Nama Presiden Prabowo Jadi Joko Widodo di KTT ASEAN 2025

Kesalahan Penyiaran RTM yang Menimbulkan Kekhawatiran

Pada hari Minggu (26/10/2025), sebuah lembaga penyiaran publik Malaysia, Radio Televisyen Malaysia (RTM), mengeluarkan permintaan maaf resmi melalui media sosialnya setelah terjadi kesalahan dalam penyiaran langsung. Kesalahan ini terjadi saat siaran menyambut pemimpin negara pada KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur.

Dalam peristiwa tersebut, RTM salah menyebut nama Presiden Indonesia Prabowo Subianto sebagai Joko Widodo. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan ketidakpuasan dari pihak Indonesia. RTM segera merespons dengan mengakui adanya kekeliruan dari komentator siaran dan menegaskan bahwa mereka telah mengambil tindakan internal untuk mengatasi masalah ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pihak RTM juga menyatakan bahwa mereka akan memperketat kontrol editorial dan verifikasi fakta agar keakuratan serta integritas informasi dalam setiap siarannya tetap terjaga. Dalam pernyataannya, RTM menjelaskan bahwa kesalahan terjadi karena komentator yang menyebut presiden Indonesia sebagai Joko Widodo, padahal saat ini presiden yang berkuasa adalah Prabowo Subianto.

Kesalahan ini juga menjadi bahan evaluasi bagi RTM. Mereka menyadari bahwa insiden ini dapat berdampak pada hubungan antar negara dan reputasi lembaga penyiaran mereka sendiri. Oleh karena itu, RTM berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pengawasan dan pemeriksaan informasi yang disampaikan kepada publik.

Berikut adalah pernyataan lengkap RTM terkait insiden tersebut:

KUALA LUMPUR, 26 Oktober 2025 - Jabatan Penyiaran Malaysia memohon maaf atas kesilapan yang berlaku dalam siaran langsung RTM sempena Sidang Kemuncak ASEAN Ke-47 dan sidang-sidang berkaitan di Pusat Konvensyen Kuala Lumpur (KLCC).

Berdasarkan siasatan dalaman, terdapat kesilapan oleh pengulas siaran yang telah menyebut nama Presiden Republik Indonesia sebagai Joko Widodo, sedangkan Presiden Republik Indonesia yang terkini ialah Prabowo Subianto.

Pihak RTM memandang serius perkara ini dan tindakan sewajarnya telah diambil.

RTM dengan ini memohon maaf kepada Presiden dan Kerajaan Republik Indonesia, serta semua pihak yang terkesan akibat kesilapan ini.

RTM juga akan terus meningkatkan kawalan editorial dan semakan fakta bagi memastikan setiap maklumat yang disampaikan adalah tepat serta berintegriti.

Langkah-Langkah yang Diambil RTM

Setelah kejadian ini, RTM melakukan beberapa langkah penting untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa. Berikut adalah beberapa langkah yang telah diambil:

  • Peningkatan Pengawasan Internal: RTM memperkuat sistem pengawasan internal agar setiap informasi yang disampaikan melalui siaran lebih akurat dan dapat dipercaya.
  • Pelatihan bagi Komentator: Seluruh komentator dan staf penyiaran akan diberikan pelatihan tambahan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang isu-isu politik dan informasi terkini.
  • Verifikasi Fakta Lebih Ketat: RTM akan memperketat proses verifikasi fakta sebelum informasi disiarkan, termasuk memeriksa nama-nama pejabat negara secara lebih detail.
  • Evaluasi Sistem Siaran: RTM akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem siaran mereka, termasuk teknologi dan prosedur kerja, untuk memastikan tidak ada celah yang bisa menyebabkan kesalahan.

Tanggapan dari Pihak Indonesia

Meskipun RTM telah mengeluarkan permintaan maaf, kejadian ini tetap menimbulkan kekecewaan dari pihak Indonesia. Beberapa pihak menilai bahwa kesalahan ini bisa saja dihindari jika sistem verifikasi informasi lebih ketat. Namun, RTM telah menunjukkan komitmen untuk memperbaiki diri dan menjaga integritas informasi dalam setiap penyiaran mereka.

Kesimpulan

Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi RTM dan lembaga penyiaran lainnya. Pentingnya akurasi informasi dalam penyiaran harus selalu dijaga, terlebih dalam konteks internasional seperti KTT ASEAN. Dengan langkah-langkah yang telah diambil, RTM berharap dapat membangun kembali kepercayaan publik dan menjaga reputasi mereka sebagai lembaga penyiaran yang profesional.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan