Rudal Balistik Iran Tersimpan di Bawah Tanah, Masih Mengancam

Rudal Balistik Iran Tersimpan di Bawah Tanah, Masih Mengancam
Rudal Balistik Iran Tersimpan di Bawah Tanah, Masih Mengancam

Iran Masih Menyimpan Ribuan Rudal Balistik yang Siap Ditembakkan

Iran disebut masih menyimpan ribungan rudal balistik yang siap ditembakkan ke arah Israel maupun Amerika Serikat (AS). Meskipun telah mengalami serangan intensif dari kedua negara tersebut, kemampuan militer Iran belum sepenuhnya lumpuh. Laporan dari badan intelijen AS menunjukkan bahwa rudal-rudal tersebut tersimpan di fasilitas bawah tanah dan dapat diluncurkan kapan saja.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran masih memiliki potensi untuk memulihkan kekuatan militernya, meskipun sebagian besar peluncur dan rudal telah rusak atau tidak efektif. Sumber-sumber intelijen AS juga khawatir bahwa Iran akan memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk membangun kembali stok rudalnya.

China Dituduh Kirim Sistem Pertahanan ke Iran

Menurut laporan dari CNN, terdapat indikasi bahwa China sedang bersiap mengirim sistem pertahanan udara ke Iran dalam beberapa minggu ke depan. Namun, pihak China membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar China di AS menegaskan bahwa negaranya tidak pernah memasok senjata ke pihak mana pun dalam konflik dan tetap mematuhi kewajiban internasional.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa program rudal Iran telah secara fungsional hancur. Meski demikian, sumber AS dan Israel menyebut, Iran masih memiliki kemampuan untuk memulihkan sebagian kekuatan militernya. Banyak peluncur rudal yang masih dapat diperbaiki, sementara stok rudal balistik jarak pendek dan menengah masih tersisa dalam jumlah ribuan.

Serangan Rudal Iran ke Israel

Sebelumnya, ratusan rudal balistik Iran ditembakkan ke Israel, dengan sekitar 680 rudal yang dilaporkan membawa hulu ledak bom tandan. Serangan ini menewaskan 20 warga sipil Israel dan warga negara asing di Israel, serta empat warga Palestina di Tepi Barat. Lebih dari 7.000 orang di Israel terluka akibat serangan tersebut.

Serangan ini merupakan bagian dari kampanye militer 40 hari Israel-AS yang dimulai pada 28 Februari 2026. Tujuan utamanya adalah melemahkan kemampuan militer Iran, termasuk program nuklir dan rudal balistik, serta mendorong perubahan rezim. Meski gencatan senjata diumumkan, serangan masih berlanjut hingga dini hari pada 8 April 2026.

Persyaratan Iran untuk Negosiasi

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negosiasi dengan pihak-pihak terkait konflik regional tidak dapat dimulai tanpa terpenuhinya dua prasyarat utama. Yaitu penerapan gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir. Ia menilai bahwa tanpa implementasi konkret di lapangan, pembicaraan hanya akan bersifat simbolis dan tidak menghasilkan solusi nyata.

Lebanon dianggap sebagai bagian integral dari stabilitas kawasan, sehingga gencatan senjata di wilayah tersebut menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar. Iran juga menekankan bahwa isu Lebanon tidak bisa dipisahkan dari kerangka negosiasi yang lebih luas.

Penghentian Total Agresi

Iran menegaskan bahwa setiap langkah menuju gencatan senjata harus mencakup penghentian total agresi di seluruh kawasan, bukan sekadar jeda sementara dalam konflik. Melalui proposal 10 poin yang diajukan kepada mediator internasional, Teheran menuntut diakhirinya seluruh operasi militer oleh AS dan Israel. Termasuk serangan terhadap Iran, sekutunya, serta wilayah Lebanon.

Proposal tersebut juga menekankan pentingnya jaminan bahwa tidak akan ada serangan lanjutan setelah gencatan senjata diberlakukan. Iran bahkan menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima kesepakatan gencatan senjata apa pun sebelum seluruh paket proposal tersebut diakui secara resmi.

Israel Buat Ulah di Lebanon

Di sisi lain, Israel kembali membuat ulah dengan menyatakan keenganannya untuk melakukan gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon. Padahal, AS dengan Iran bakal melakukan perundingan damai di Pakistan. Pemerintah Israel secara tegas menolak opsi gencatan senjata dengan Hizbullah dan memilih untuk terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pasukannya tidak akan menarik diri atau menghentikan serangan dalam waktu dekat. Bagi Israel, diplomasi dan aksi militer adalah dua jalur yang berjalan beriringan. Mereka bersedia bicara dengan pemerintah Lebanon, namun di saat yang sama, bom-bom Israel tetap akan menyasar posisi-posisi Hizbullah.

Ancaman Iran Menjelang Perundingan

Menjelang pertemuan dengan AS di Islamabad, Iran melontarkan ancaman keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan posisi negaranya bahwa diskusi tidak bisa melangkah lebih jauh jika aset-aset Iran yang dibekukan belum cair. Tak hanya itu, Iran menuntut jaminan keamanan dan gencatan senjata di Lebanon sebagai paket kesepakatan.

Negosiasi AS-Iran yang dijadwalkan pada Sabtu pagi di Islamabad akan difokuskan pada pencapaian kesepakatan gencatan senjata yang langgeng antara kedua belah pihak.