Rugi Rp 2,6 T: Pendapatan Naik, Tapi Beban Integrasi Menggerus Keuntungan

admin.aiotrade 14 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Rugi Rp 2,6 T: Pendapatan Naik, Tapi Beban Integrasi Menggerus Keuntungan

Kinerja Keuangan EXCL yang Tercatat Rugi Bersih

PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mengumumkan bahwa dalam periode Januari–September 2025, perusahaan mencatat rugi bersih sebesar Rp 2,60 triliun. Hal ini berbeda dengan laba yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,31 triliun. Meskipun demikian, EXCL berhasil meningkatkan pendapatan dari Rp 25,36 triliun menjadi Rp 30,54 triliun.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Presiden Direktur EXCL, Rajeev Sethi, menjelaskan bahwa kuartal ketiga merupakan fase penting bagi XLSMART dalam merealisasikan nilai konsolidasi dan integrasi usai merger. Proses integrasi jaringan berjalan sesuai rencana, tetapi diperlukan biaya yang cukup besar sehingga memengaruhi kinerja EBITDA dan laba perusahaan.

“Di tengah dinamika industri yang masih menantang, kami berhasil mencatat pertumbuhan yang solid, didukung oleh momentum pascamerger yang kuat. Basis pelanggan yang semakin kokoh serta peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) menunjukkan efektivitas strategi monetisasi dan fokus kami pada pertumbuhan yang berkualitas,” ujar Rajeev dalam keterangan resmi.

Potensi Sinergi dan Inisiatif yang Berhasil

EXCL percaya bahwa mereka berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan potensi sinergi senilai US$ 150–200 juta pada 2025. Beberapa inisiatif telah memberikan hasil yang signifikan, seperti penyatuan pusat operasional dan pemantauan layanan, optimalisasi site dan aset jaringan, serta dukungan mitra jaringan dan penyedia menara.

Hingga kuartal III, jumlah pelanggan mencapai 79,6 juta dengan rata-rata pendapatan per pengguna (blended ARPU) sebesar Rp 39 ribu, tumbuh dua digit dibanding kuartal sebelumnya. Kenaikan ARPU sejalan dengan meningkatnya pengalaman pelanggan dari proses integrasi jaringan.

Beban Operasional yang Naik Akibat Integrasi

EXCL mencatat kenaikan beban operasional akibat proses integrasi dan semakin luasnya kegiatan operasional usai merger. Beban penyusutan naik dari Rp 9,07 triliun pada Januari–September 2024 menjadi Rp 12,37 triliun pada Januari–September 2025. Beban penjualan dan pemasaran juga meningkat karena naiknya komisi penjualan, meski biaya iklan dan promosi turun.

Adapun beban penjualan dan pemasaran turun tipis dari Rp 1,58 triliun menjadi Rp 1,50 triliun. Komponen biaya lain meliputi biaya infrastruktur, interkoneksi, pengeluaran langsung, dan beban regulasi juga meningkat. Secara keseluruhan, biaya operasional meningkat seiring munculnya biaya terkait integrasi menuju entitas EXCL yang baru.

Tiga Pilar Bisnis yang Menjadi Penopang

EXCL menilai kinerja perseroan didukung oleh tiga pilar bisnis, yaitu mobile, enterprise, dan home. Di segmen Mobile, EXCL memperkuat posisi melalui tiga merek utama yaitu XL, AXIS, dan Smartfren dengan penyederhanaan paket kartu perdana serta optimalisasi penawaran produk. Interaksi digital pelanggan juga tumbuh, tercermin dari pengguna aktif bulanan aplikasi myXL, AXISNet, dan mySmartfren yang mencapai 39,1 juta, naik 21% secara tahunan.

Pada segmen Enterprise, XLSMART for Business menawarkan solusi terintegrasi yang mencakup konektivitas, TIK, hingga layanan digital. Sementara itu, pada segmen Home, layanan XL Satu terus memperkuat posisi sebagai pemain fixed broadband dengan hampir satu juta pelanggan. Fleksibilitas produk dan harga terjangkau mendorong loyalitas serta penetrasi pasar rumah tangga.

Ekspansi Jaringan dan Kinerja Keuangan

Per akhir September 2025, utang kotor EXCL mencapai Rp 22,50 triliun dengan rasio net debt to EBITDA (termasuk finance lease) sebesar 3,27 kali. Utang bersih tercatat Rp 21,14 triliun, tanpa eksposur utang berdenominasi dolar AS. Sebanyak 84% pinjaman berbunga mengambang dan 16% berbunga tetap.

Free cash flow (FCF) meningkat 23% menjadi Rp 9,41 triliun. Pengeluaran belanja modal (capex) hingga September 2025 mencapai Rp 4,26 triliun. Hingga akhir kuartal III, EXCL mengoperasikan lebih dari 209 ribu BTS, naik 27% year-over-year, dengan sekitar 15.000 objek berhasil diintegrasikan. Trafik layanan tumbuh 53% year-over-year menjadi 3.903 petabytes.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan