
Kehidupan yang Penuh Dengan Trauma
Sejak kecil, rumahku tidak pernah benar-benar sepi. Selalu dipenuhi dengan suara. Suara bentakan, suara tangis, suara barang yang jatuh. Aku tumbuh dengan rumah yang perlahan-lahan rusak, tidak aman untuk ditinggali. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat, semenjak saat itu berubah menjadi trauma yang tak kunjung berkesudahan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Orang tuaku sering bertengkar, dan selalu di hadapanku. Mereka tidak berusaha menutupi nya dari diriku. Aku menjadi saksi bisu yang berdiri di tengah mereka, mendengar kata-kata yang tak pantas terucap dihadapan anak kecil berumur 5 tahun. Hingga sekarang, kata-kata itu seperti bisikan ditengah malam yang mengganggu, tak pernah benar-benar pergi dari hidupku.
Rumah itu besar, megah, berdiri dengan kokoh, sejenak dari luar terlihat sangat hebat. Tidak tahu saja didalam nya sangat rapuh, hanya butuh waktu hingga rumah itu runtuh seluruhnya. Seluruh isi rumah itu berusaha keras menahan segala teriakan dan seluruh emosi yang tak pernah selesai. Sampai suatu malam, rumah itu benar-benar rusak.
Detik-Detik Berdarah Di Rumah
Tengah malam, sehabis hujan, dingin. Masih jelas di ingatan ku hari itu. Tepat jam 10 malam, aku dan mama sedang berada diruang tamu, menonton televisi bersama. Entah kenapa hanya aku yang belum tidur saat itu, seolah takdir ingin aku melihat detik-detik rumah itu hancur berkeping-keping.
Seperti tsunami yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, keributan itu terjadi lagi, kali ini jauh lebih hebat, bahkan hingga orang sekitar rumah mengetahui kejadian itu. Aku? Aku hanya diam menyaksikan semua rentetan kejadian tersebut, menangis pun tak mengerti apa yang sedang terjadi. Pintu gerbang yang terbuka, teriakan yang selalu terbayang-bayang hingga aku dewasa, tentu saja memanggil perhatian orang-orang sekitar, mengganggu tidur nyenyak mereka.
Rasanya malam itu terasa sangat panjang, aku hanya bisa berlindung dibalik daster mama ku sambil ketakutan melihat mereka saling melempar barang. Hingga akhirnya, mama memilih pergi dari sana, dia pergi tanpa tahu mau kemana. Dia membawa aku dan adikku yang masih tertidur lelap, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, pergi. Akhirnya rumah yang berusaha dipertahankan itu, luruh hancur lebur tak bersisa. Aku tidak lagi memiliki rumah.
Perjalanan Menuju Kebebasan
Sejak saat itu, aku tumbuh dengan mengetahui aku tidak lagi memiliki rumah yang sama seperti orang kebanyakan. Luka itu.. tidak pernah sembuh. Rasanya seperti tidak tau arah jalan pulang, bagaimana mau pulang jika rumah itu saja tidak ada?. Aku sering iri melihat teman-temanku pulang. Pulang ke rumah yang utuh, ke tempat dimana mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa suara yang merusak telinga. Sementara aku, mengetahui bahwa pulang berarti tidak aman, rasanya seperti kembali ke sumber luka itu terus menerus. Sakit.
Waktu terus berjalan, aku semakin dewasa. Aku takut dengan pertengkaran, perasaan takut ditinggalkan. Kadang aku bisa menangis histeris hanya dengan mendengar suara bentakan. Rumah yang rusak itu membentuk caraku untuk mencintai dan bertahan.
Hingga akhirnya, aku menemukan tempat bernaung. Tentu bukan orang tuaku, melainkan seseorang yang berusaha masuk kedalam hidupku untuk memberikan rasa aman. Dia pelan-pelan berusaha memperlihatkan bagaimana rasanya tinggal ditempat yang penuh dengan kehangatan. Di sana, aku belajar bahwa ternyata rumah itu bisa hangat, penuh kedamaian dan suara yang lembut. Bahwa rumah tidak harus sempurna untuk bisa merasa aman.
Membangun Rumah Baru
Semenjak saat itu aku paham, rumah yang rusak mungkin memang tidak bisa diperbaiki lagi. Tapi, aku bisa membangun rumah itu sendiri. Dari rasa percaya, rasa untuk saling mendengarkan, dari rasa aman yang aku ciptakan perlahan-lahan. Aku sadar, mungkin suatu saat orang yang memberiku rasa rumah itu bisa saja pergi. Rumah yang berusaha kubangun bisa saja rusak kembali. Ketakutan itu pasti ada, dan akan selalu ada tersimpan dalam hatiku. Tapi setidaknya aku tidak lagi sepenuhnya hancur.
Aku tau aku pasti bisa memperbaiki rumahku sendiri. Aku pasti bisa membangunnya lagi. Dengan waktu dan juga dengan perasaan menerima dan Ikhlas. Rumah yang rusak mengajari aku banyak hal. Tentang rasa kehilangan, rasa bertahan. Tentang bagaimana aku harus menerima bahwa tidak semua keluarga bisa diselamatkan, tapi yang pasti diriku sendiri pantas dan layak diperjuangkan.
Masih banyak hal yang terjadi dalam hidupku hingga saat ini. Tapi aku berusaha untuk tetap kuat, berharap ini semua akan berbuah manis pada akhirnya. Rasa pahit yang aku rasakan, akan terasa manis pada akhirnya.
Dari cerita ini, aku ingin semua yang membaca tau, memang aku tumbuh dari rumah yang rusak. Tapi aku tidak akan hidup selamanya didalam rumah yang rusak itu. Ada banyak diluaran sana, yang mungkin memiliki nasib yang sama dengan diriku. Aku hanya ingin bilang, kedepannya hidup mungkin akan terasa makin menyebalkan, tetapi percayalah diri kita juga pasti akan semakin kuat. Aku percaya dengan sebuah quotes yang mengatakan "It will pass".