
Nilai tukar rupiah mengalami penguatan sebesar 0,04% pada perdagangan pagi ini, Senin (27/4), dengan berada di level 17.222 per dolar AS. Meski demikian, prospek rupiah terlihat tidak terlalu menjanjikan dalam jangka pendek, karena adanya potensi pelemahan akibat meningkatnya sentimen global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menyampaikan bahwa rupiah kemungkinan akan melemah seiring gagalnya putaran kedua negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memicu kenaikan harga minyak mentah serta memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven.
"Pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.200 per dolar AS," ujarnya kepada Aiotrade, Senin (27/4).
Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah dibuka dengan penguatan sebesar 17 poin di level 17.212 per dolar AS. Namun, nilai tukar rupiah kemudian mulai melemah dari posisi pembukaan ke level 17.222 per dolar AS pada pukul 09.20 WIB.
Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi Akibat Terhentinya Perundingan AS-Iran
Pembatalan rencana perjalanan utusan AS ke Pakistan telah menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak mentah. Rencana tersebut bertujuan untuk melakukan perundingan damai dengan Iran, tetapi dibatalkan mendadak oleh Presiden AS, Donald Trump.
Menurut laporan dari The Time, Trump membatalkan rencana utusan AS yang akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk berbicara dengan para pemimpin Iran pada hari Sabtu. Rencana ini ditujukan untuk membuka putaran negosiasi baru guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu presiden, sebelumnya dijadwalkan untuk melakukan perjalanan ke Islamabad agar dapat berbicara dengan para pemimpin Iran. Namun, Trump membatalkan perjalanan tersebut pada menit terakhir, dengan alasan "pertikaian" di antara kepemimpinan Iran.
"Terlalu banyak waktu yang terbuang untuk bepergian, terlalu banyak pekerjaan!" ujar Trump di Truth Social.
Trump juga menyebut bahwa ada pertikaian dan kebingungan yang luar biasa dalam 'kepemimpinan' Iran. "Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka," tambahnya.
Asing Net Sell Rp 2,95 T Pekan Lalu, Ramai Jual Saham BBCA, BBRI, hingga BUMI
Selain situasi geopolitik, pergerakan pasar modal juga turut memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Data menunjukkan bahwa investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 2,95 triliun pada pekan lalu. Beberapa saham yang menjadi incaran investor asing untuk dijual antara lain BBCA, BBRI, hingga BUMI.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar modal semakin besar, terlebih dengan adanya ketidakpastian yang muncul dari situasi global. Hal ini bisa berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah dan indeks pasar saham nasional.
Dengan situasi yang terus berubah, investor dan pelaku bisnis diharapkan lebih waspada terhadap perkembangan terkini, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Kondisi seperti ini sering kali memengaruhi keputusan investasi dan strategi pengelolaan risiko di pasar modal.