
Jakarta – Hingga saat ini, nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan. Para ahli keuangan memprediksi bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan hari esok akan cenderung melemah, terutama karena adanya momentum dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Nilai tukar rupiah di pasar spot terus mengalami penurunan hingga penutupan perdagangan hari ini. Pada Rabu (10/12/2025), rupiah ditutup di level Rp 16.688 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini berarti rupiah melemah sebesar 0,07% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di tingkat Rp 16.676 per dolar AS.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di sisi lain, kurs rupiah Jisdor juga mengalami pelemahan sebesar Rp 11 atau 0,07% menjadi Rp 16.688 per dolar AS pada hari ini.
Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, rupiah akan terpengaruh oleh sentimen dari FOMC malam ini. Pasar keuangan global kini sedang memperhatikan momen penting ini. Jika The Fed memberi sinyal bahwa ruang pelonggaran lebih sempit atau lebih lambat dari ekspektasi pasar, maka dolar kemungkinan akan kembali menguat secara signifikan, dan rupiah bisa terkoreksi lebih dalam.
"Walaupun hampir dipastikan suku bunga akan dipangkas, namun investor sangat memperhatikan seberapa hawkish nada dari pernyataan The Fed," ujar Lukman kepada aiotrade, Rabu (10/12/2025).
Dari sudut pandang eksternal, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa pergerakan rupiah hari esok akan dipengaruhi oleh sentimen Bank Indonesia (BI) yang menyampaikan beberapa risiko untuk diwaspadai dampaknya terhadap ekonomi global ke depan.
Hal ini terutama terkait dengan perilaku agresif lembaga keuangan non-bank. BI menunjukkan bahwa ada beberapa risiko utama yang mengancam prospek ekonomi global di masa mendatang.
"Salah satu yang menjadi fokus utama yaitu kerentanan pasar keuangan akibat perilaku institusi non-bank," tambahnya.
Dengan demikian, Ibrahim memproyeksikan bahwa mata uang rupiah pada Kamis (11/12/2025) akan bergerak fluktuatif, tetapi akan ditutup melemah di kisaran Rp 16.680 hingga Rp 16.720 per dolar AS.
Sementara itu, Lukman memproyeksikan bahwa rupiah hari esok akan bergerak dalam rentang Rp 16.600 hingga Rp 16.700 per dolar AS.