Rupiah Diperkirakan Melemah Lagi Selasa (9/12), Ini Faktor Pemicunya

admin.aiotrade 08 Des 2025 2 menit 11x dilihat
Rupiah Diperkirakan Melemah Lagi Selasa (9/12), Ini Faktor Pemicunya


Rupiah Mengalami Pelemahan di Awal Pekan

Pada perdagangan awal pekan, rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Minimnya katalis penguatan membuat rupiah diproyeksikan masih tertekan pada hari berikutnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada Senin (8/12/2025), kurs rupiah di pasar spot melemah sebesar Rp 47 atau 0,28% menjadi Rp 16.695 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jisdor juga mengalami penurunan sebesar Rp 33 atau 0,20% menjadi Rp 16.688 per dolar AS.

Menurut analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, sentimen rupiah secara umum cenderung negatif pada Selasa (9/12/2025). Pasar masih melihat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang longgar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, tidak ada katalis lain seperti data ekonomi dari dalam maupun luar negeri, atau survei kepercayaan konsumen yang meningkat, yang akan dirilis dalam jangka pendek. Jika ada, hal ini diharapkan dapat mendukung penguatan rupiah.

“Meskipun dolar AS cenderung tertekan menjelang FOMC (Federal Open Market Committee) lusa, rupiah sulit bangkit dan bertahan di atas Rp 16.600. Namun, intervensi BI juga menahan rupiah di bawah Rp 16.700,” ujar Lukman kepada aiotrade, Senin (8/12/2025).

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa tanda-tanda perlambatan ekonomi di AS baru-baru ini, termasuk indikator ketenagakerjaan yang lebih lemah, turut menjadi sentimen penggerak.

Pelemahan indikator tersebut mendorong kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, optimisme tersebut diredam oleh kehati-hatian karena beberapa pejabat Fed mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga pada bulan Desember masih jauh dari pasti.

“Pasar didukung ekspektasi kuat Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga akhir pekan ini,” jelas Ibrahim.

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (9/12) akan bergerak fluktuatif dengan cenderungan melemah di rentang Rp 16.690 hingga Rp 16.730 per dolar AS. Sementara itu, Lukman memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.600 hingga Rp 16.700 per dolar AS.

Beberapa faktor yang memengaruhi rupiah antara lain:

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh BI: Pasar mengharapkan adanya kebijakan moneter yang dapat mendukung penguatan rupiah.
  • Ketidakpastian dari FOMC: Meskipun dolar AS cenderung tertekan, rupiah masih menghadapi tekanan.
  • Indikator ekonomi AS yang melemah: Ketenagakerjaan yang lebih lemah memberi ruang bagi kemungkinan pemangkasan suku bunga.
  • Tidak ada katalis signifikan: Tidak ada data ekonomi atau survei kepercayaan konsumen yang dirilis dalam jangka pendek.

Dengan situasi saat ini, rupiah masih menghadapi tantangan untuk pulih dalam jangka pendek. Namun, intervensi BI dan harapan akan pemangkasan suku bunga tetap menjadi faktor penting yang akan memengaruhi arah pergerakan rupiah.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan