Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.107 per Dolar AS

Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.107 per Dolar AS


aiotrade, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Senin (13/4/2026), dibuka pada level Rp17.107. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh faktor gagalnya perundingan antara AS dan Iran.

Berdasarkan data dari tradingview hingga pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah tercatat stagnan di level Rp17.107, dibandingkan dengan pembukaan sebelumnya. Pada saat yang sama, mata uang Asia lainnya terpantau mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

  • Yen Jepang terhadap dolar AS turun sebesar 0,28%.
  • Dolar Singapura melemah 0,21%.
  • Dolar Hong Kong mengalami pelemahan sebesar 0,06%.
  • Won Korea ikut melemah sebesar 0,26%.
  • Peso Filipina terhadap dolar AS juga melemah 0,89%.
  • Ringgit Malaysia melemah sebesar 0,25%.
  • Baht Thailand mengalami pelemahan 0,87%.
  • Yuan China terhadap dolar AS mengalami pelemahan 0,08%.

Menurut analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sentimen global memanas setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menutup Selat Hormuz menyusul kegagalan perundingan dengan Iran.

Eskalasi ketegangan tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah diperkirakan melemah dengan kisaran di level Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Tekanan terhadap rupiah semakin terasa seiring penguatan indeks dolar AS yang pagi ini terpantau naik sekitar 0,35%. Kondisi tersebut diikuti oleh pelemahan mayoritas mata uang regional di Asia. Bahkan, peso Filipina dan baht Thailand tercatat melemah cukup tajam, masing-masing mendekati 1% terhadap dolar AS.

Dari dalam negeri, sentimen negatif masih membayangi pergerakan rupiah. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan pelemahan, mulai dari cadangan devisa yang menurun, kinerja perdagangan yang kurang solid, hingga kekhawatiran terhadap defisit fiskal yang berpotensi menembus batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mengalami penurunan, termasuk oleh World Bank. Di sisi lain, pasar turut mencermati potensi penurunan peringkat pasar Indonesia oleh lembaga indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data penjualan ritel domestik yang dijadwalkan keluar siang ini. Namun demikian, Lukman menilai dampak data tersebut terhadap pergerakan rupiah cenderung terbatas.

"Apapun hasilnya, pengaruhnya kemungkinan tidak signifikan di tengah dominasi sentimen global, khususnya gejolak di Timur Tengah,” imbuhnya.