Rupiah Melemah, Ini 3 Strategi Kuat untuk Bangkit Menurut Ekonom

admin.aiotrade 30 Sep 2025 3 menit 12x dilihat
Rupiah Melemah, Ini 3 Strategi Kuat untuk Bangkit Menurut Ekonom
Featured Image

Penyebab Melemahnya Rupiah dan Solusi yang Dapat Dilakukan

Nilai tukar rupiah yang mengalami penurunan hingga mencapai kisaran Rp 16.700 per dolar AS dalam sepekan terakhir dinilai sebagai respons berlebihan terhadap situasi ekonomi yang sedang dihadapi. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ekspektasi pasar dan kondisi riil perekonomian Indonesia.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyatakan bahwa stabilitas rupiah dapat kembali pulih jika ada koordinasi yang lebih baik antara kebijakan moneter dan fiskal. Ia menyoroti bahwa salah satu faktor utama yang memberatkan rupiah adalah kurangnya kejelasan tentang bagaimana arus dolar yang masuk ke Indonesia digunakan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Fakhrul, jika dolar milik Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri dikembalikan ke dalam negeri, pertanyaannya adalah bagaimana dana tersebut akan dialokasikan. Apakah akan disalurkan melalui instrumen tertentu, ke sektor mana, dan dengan syarat apa? Tanpa jawaban atas pertanyaan ini, pasar cenderung memperkirakan bahwa permintaan dolar di masa depan akan meningkat, terutama untuk pembayaran bunga.

Meningkatkan Kredibilitas Pasar Keuangan

Untuk mengatasi masalah ini, Fakhrul menyarankan pemerintah segera memperkuat pendalaman pasar keuangan dengan menghadirkan instrumen kredibel. Salah satu contohnya adalah penerbitan global bond oleh pemerintah atau obligasi dolar oleh BUMN strategis seperti Pertamina dan PLN.

Ia juga menekankan pentingnya adanya proyek dan pinjaman dolar yang jelas agar pasar percaya bahwa dolar yang masuk ke Indonesia memiliki tujuan yang jelas. Saat ini, kebutuhan pembiayaan dolar sektor swasta menurun, terlihat dari rasio loan to deposit ratio (LDR) non-rupiah perbankan yang berada di bawah 80%.

Tiga Langkah Strategis untuk Menahan Pelemahan Rupiah

Fakhrul mengusulkan tiga langkah strategis untuk menahan pelemahan rupiah:

  1. Penerbitan Dolar Bond
    Pemerintah, Pertamina, atau PLN segera menerbitkan dolar bond untuk menampung likuiditas yang ada.

  2. Penyaluran Pinjaman ke Pasar Luar Negeri
    Bank-bank nasional yang memiliki likuiditas dolar harus diarahkan untuk menyalurkan pinjaman ke pasar luar negeri, sesuai dengan misi penguatan BUMN perbankan.

  3. Meninjau Ulang Kebijakan Bunga Deposito USD 4%
    Kebijakan bunga deposito USD sebesar 4% dinilai memengaruhi ekspektasi pasar secara drastis, sehingga perlu ditinjau ulang.

Membangun Pasar Mata Uang dan Derivatif dalam Negeri

Lebih lanjut, Fakhrul menekankan perlunya membangun pasar mata uang dan derivatif dalam negeri yang lebih dalam. Saat ini, Indonesia masih menghadapi keterbatasan aset berdenominasi dolar, baik dalam bentuk pinjaman maupun obligasi.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah berhasil menurunkan kebutuhan dolar melalui kewajiban penggunaan rupiah dalam berbagai transaksi. Namun, yang lebih mendesak saat ini adalah memperluas instrumen pasar dan memperkuat analisis risiko.

Prospek Penguatan Rupiah

Meski saat ini rupiah masih berada di level Rp 16.700 per dolar AS, Fakhrul menilai kondisi tersebut sudah overshooting. Dengan asumsi suku bunga Amerika Serikat akan turun dan neraca perdagangan Indonesia masih surplus besar, peluang penguatan rupiah cukup terbuka.

“Jika kebijakan bisa dijalankan dengan koheren, rupiah bisa kembali ke level 16.000 atau bahkan lebih kuat. Jadi bukan saatnya membeli dolar sekarang,” tutupnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan