
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS pada Perdagangan Selasa
Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Selasa, 16 Desember 2025. Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah sebesar 0,14% ke level Rp16.690 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah juga turun 0,14% ke Rp16.693 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp16.669 per dolar AS pada Senin, 15 Desember.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah
Menurut pengamat ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS. Hal ini terjadi di tengah fokus pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat. Pasar menantikan rilis data tenaga kerja non-pertanian serta inflasi AS, yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Selain itu, perkembangan perundingan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina juga turut memengaruhi sentimen global, meskipun masih ada ketidakpastian terkait konsesi teritorial.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai bahwa fundamental Indonesia relatif terjaga. Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2025 tercatat menurun secara bulanan dan didominasi ULN jangka panjang, mencerminkan pengelolaan yang tetap cermat.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Meski demikian, sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah jangka pendek. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (17/12) di kisaran Rp16.650–Rp16.690.
Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen risk-off di pasar saham Asia. Tekanan tersebut berasal dari kinerja perusahaan teknologi AS yang lebih rendah dari ekspektasi, sehingga menekan saham teknologi di kawasan.
“Rupiah melemah terhadap dolar AS didorong oleh sentimen risk-off di pasar saham kawasan Asia, serta investor yang masih mengantisipasi data AS serta hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu besok,” ujar Josua dalam wawancara dengan aiotrade, Selasa (16/12).
Perhatian Terhadap Hasil RDG BI
Menjelang perdagangan Rabu (17/12/2025), pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Josua memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% dengan tetap menjaga sikap kehati-hatian guna menopang stabilitas nilai tukar. Sejalan dengan itu, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 16.625–Rp 16.725 per dolar AS.
Tantangan dan Peluang Jangka Pendek
Pelemahan rupiah pada hari ini menunjukkan bahwa kondisi pasar global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang lokal. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil memberikan dukungan untuk mencegah penurunan yang lebih dalam.
Investor dan pelaku pasar diharapkan dapat memperhatikan perkembangan terbaru terkait data ekonomi AS serta kebijakan moneter BI. Dengan situasi yang dinamis, rupiah kemungkinan akan terus berfluktuasi, namun potensi untuk menguat terbatas tetap ada jika sentimen global membaik.