
Rupiah Melemah di Akhir Pekan, Dipengaruhi Berbagai Faktor Internal dan Eksternal
Pada penutupan perdagangan Senin (17/11/2025), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan sebesar 29 poin atau 0,17 persen. Rupiah berada pada level Rp 16.736 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi karena beberapa faktor yang memengaruhi sentimen pasar, baik dari dalam maupun luar negeri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi oleh Bank Indonesia
Salah satu faktor internal yang memengaruhi rupiah adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 yang lebih rendah dibandingkan target pemerintah. Menurut Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 mencapai 5,33 persen, sedangkan target pemerintah adalah 5,4 persen.
Proyeksi ini disusun dengan mempertimbangkan kebijakan moneter yang akan diambil BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun angka tersebut lebih rendah dari target APBN 2026, BI tetap optimis bahwa target pemerintah bisa tercapai jika realisasi belanja pemerintah berjalan cepat dan efektif.
Inflasi dan Optimisme Menteri Keuangan
Selain itu, BI juga memproyeksikan inflasi pada 2026 akan berada di level 2,62 persen. Angka ini masih dalam kisaran sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, namun sedikit lebih tinggi dari asumsi dasar APBN 2026 yang sebesar 2,5 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudh Sadewa menunjukkan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2026. Ia yakin bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen secara tahunan (year on year). Optimisme ini didasarkan pada pemulihan berbagai indikator perekonomian, seperti indeks penjualan ritel dan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah
Dari segi eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan tensi geopolitik di Timur Tengah. Investor semakin yakin bahwa Federal Reserve tidak akan melonggarkan kebijakannya dalam waktu dekat, karena inflasi masih tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja belum melemah signifikan.
Selain itu, penutupan pemerintah AS menyebabkan gangguan dalam pengumpulan data makro, termasuk laporan penggajian non-pertanian bulan September. Hal ini membuat investor kehilangan indikator utama selama berminggu-minggu.
Perkembangan Geopolitik di Ukraina dan Rusia
Tensi geopolitik juga turut memengaruhi nilai tukar rupiah. Serangan besar-besaran Ukraina terhadap Novorossiysk dan terminal Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) menyebabkan kerusakan dan menghentikan ekspor sekitar 2 persen pasokan global. Meski ada tanda-tanda pemulihan, pasar tetap waspada mengingat adanya serangan terhadap kilang-kilang di Rusia.
Prediksi Rupiah untuk Hari Selanjutnya
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah akan terus melemah dalam perdagangan hari Selasa (18/11/2025). Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 16.730—Rp 16.770 per dolar AS.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari target pemerintah, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal seperti kebijakan moneter The Fed dan situasi geopolitik. Dengan perkembangan yang terus berlangsung, investor dan pelaku pasar perlu memantau perkembangan secara cermat.