Pergerakan Rupiah dan IHSG pada Awal Pekan
Pada awal perdagangan hari ini, Senin (10/11/2025), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan. Rupiah dibuka dengan kenaikan sebesar 0,09 persen ke posisi Rp16.675 per dollar AS. Penguatan ini terjadi di tengah tren kenaikan sejumlah mata uang di kawasan Asia, meskipun indeks dollar AS juga naik tipis sebesar 0,04 persen ke level 99,64.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terlihat bervariasi. Yen Jepang melemah sebesar 0,26 persen, sementara dollar Hong Kong menguat 0,02 persen. Dollar Singapura dan dollar Taiwan masing-masing melemah 0,12 persen dan 0,09 persen, sedangkan won Korea Selatan justru menguat signifikan sebesar 0,53 persen terhadap dollar AS. Sementara itu, peso Filipina turun 0,53 persen, yuan China naik tipis 0,03 persen, ringgit Malaysia menguat 0,12 persen, dan baht Thailand melemah 0,03 persen terhadap dollar AS.
IHSG Mengawali Perdagangan dengan Penguatan Signifikan
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga membuka perdagangan awal pekan ini dengan penguatan yang cukup signifikan. Indeks dibuka naik ke level 8.443,32 dan bergerak dalam kisaran 8.425,17 hingga 8.446,30, sebelum bertahan di 8.436,89, atau menguat 0,50 persen setara 42,3 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari RTI, sebanyak 305 saham menguat, 182 saham melemah, dan 187 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 4,53 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,40 triliun, dari total 223.695 kali transaksi.
Sentimen Pasar Masih Positif
Kenaikan IHSG pada awal sesi ini menunjukkan bahwa sentimen positif di pasar masih cukup kuat, terutama di tengah kekhawatiran global akibat shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS) dan melemahnya data tenaga kerja AS. Investor domestik menjadi penopang utama penguatan indeks, sejalan dengan aksi beli pada saham-saham sektor keuangan, konsumsi, dan energi.
Reydi Octa, pengamat pasar modal, menilai bahwa di tengah tekanan global saat ini, IHSG masih cukup kuat, berkat dominasi investor domestik yang menopang pasar. Ia menjelaskan bahwa investor asing umumnya akan bersikap lebih hati-hati dan menahan posisi di aset berisiko ketika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan, karena hal itu menimbulkan kekhawatiran terhadap penurunan pendapatan dan prospek ekonomi global.
Dampak Shutdown AS dan Prospek IHSG
Shutdown yang menghentikan sebagian aktivitas pemerintahan AS sekaligus mempertegas sikap kehati-hatian investor global dalam mengambil risiko. Namun, untuk pasar saham Indonesia, Reydi memastikan dampaknya tidak akan terlalu besar. Selama beberapa pekan terakhir, investor asing sudah melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar sehingga pergerakan IHSG saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik.
Kondisi ini membuat IHSG cenderung stabil dan tidak mudah terpengaruh gejolak eksternal. Ia memperkirakan bahwa shutdown AS mungkin hanya akan memicu koreksi sesaat di pasar saham dalam negeri, tanpa mengubah tren besar pergerakan IHSG.
Potensi Arus Dana Asing Kembali Masuk
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa aksi jual asing bisa kembali meningkat, apabila investor global memutuskan untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko demi meminimalisir potensi kerugian. Sebaliknya, jika The Federal Reserve (The Fed) menanggapi pelemahan data ketenagakerjaan sebagai alasan untuk mengambil kebijakan yang lebih longgar atau bersikap dovish, justru bisa muncul peluang arus dana asing kembali masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Dalam kondisi itu, IHSG berpotensi mendapatkan dorongan tambahan dari sentimen positif global. “Potensi asing akan net sell kedepan meningkat apabila investor global mengambil keputusan untuk meminimalisir risiko, tetapi apabila The Fed menanggapi pelemahan tenaga kerja sebagai momentum dovish, bisa potensi memunculkan aliran dana masuk ke emerging market seperti IHSG,” paparnya.