
Penguatan Rupiah di Tengah Pergerakan Mata Uang Regional
Nilai tukar rupiah mengalami penguatan sebesar 0,1% menjadi Rp 16.663 per dolar Amerika Serikat pada Senin (15/12) pagi, tepatnya pada pukul 09.38 WIB. Penguatan ini tercatat dari posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.646 per dolar AS, menurut data yang dirilis oleh Bloomberg. Hal ini menunjukkan bahwa rupiah sedang dalam kondisi stabil dan mampu menghadapi dinamika pasar global.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di sisi lain, mata uang negara-negara tetangga juga menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia naik sebesar 0,16%, sementara won Korea Selatan meningkat sebesar 0,09%. Baht Thailand juga mengalami kenaikan sebesar 0,03%. Sementara itu, dolar Singapura menguat sebesar 0,04% dan dolar Hong Kong mengalami penguatan kecil sebesar 0,01%. Di sisi lain, yuan Cina mengalami pelemahan sebesar 0,04% terhadap dolar AS.
Rupiah Ditutup Menguat Pasca-Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Menurut laporan Eastspring Investments, rupiah ditutup menguat sebesar 0,18% pada Jumat (12/12), dengan level Rp 16.646 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring dengan pelemahan dolar Amerika Serikat, yang dipengaruhi oleh sentimen pelonggaran suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed.
Bank Sentral AS memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Desember, sehingga tingkat suku bunga saat ini berada di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Pemangkasan ini dilakukan sebagai respons terhadap perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang relatif melambat.
Perkembangan Imbal Hasil Obligasi AS dan Pernyataan Gubernur The Fed
Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau United States Treasury tenor 10 tahun naik sebesar tiga basis poin (bps) menjadi 4,18%. Kenaikan ini terjadi seiring dengan pidato pejabat The Fed mengenai seberapa jauh kebijakan moneter perlu dilonggarkan pada tahun depan.
Gubernur The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa dirinya lebih memilih suku bunga tetap sedikit lebih ketat untuk terus menekan inflasi. Sementara itu, Gubernur The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menyebutkan bahwa dirinya memproyeksikan lebih banyak penurunan suku bunga pada 2026.
Data Klaim Tunjangan Pengangguran AS yang Meningkat
Selain itu, analis juga menyoroti data Departemen Tenaga Kerja AS tentang klaim tunjangan pengangguran mingguan yang naik menjadi 236 ribu pada 6 Desember. Angka ini lebih tinggi dari konsensus pasar yang sebesar 220 ribu dan juga lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang mencapai 192 ribu. Data ini menunjukkan adanya tekanan pada sektor tenaga kerja AS.
Perhatian Pelaku Pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
Dari dalam negeri, pelaku pasar sedang memantau Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada 16 dan 17 Desember. Rapat ini akan menjadi momen penting untuk menentukan arah kebijakan moneter nasional dalam beberapa bulan ke depan.
Dengan berbagai faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah, baik dari dalam maupun luar negeri, para pemangku kepentingan terus memantau perkembangan secara berkala. Dengan demikian, rupiah dapat tetap stabil dan mampu menjawab tantangan pasar global.