
Tekanan Berlapis terhadap Rupiah
Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berlapis di tengah kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen baik global maupun domestik. Sejumlah analis memprediksi bahwa rupiah masih akan bergerak melemah terhadap dolar AS dalam beberapa hari ke depan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ariston Tjendra, seorang pengamat pasar uang, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Amerika Serikat. “Ini masih menjadi momok untuk rupiah,” ujarnya.
Selain itu, kebijakan Bank Indonesia yang cenderung longgar serta berbagai stimulus pemerintah juga turut mengurangi daya tarik rupiah di mata investor. Belum lagi penutupan indeks saham AS yang negatif menambah tekanan bagi aset berisiko.
Ariston memperkirakan potensi pelemahan rupiah dapat mencapai Rp 16.750 per dolar AS dengan support di sekitar Rp 16.700 per dolar AS.
Meskipun demikian, berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp 16.713 per dolar AS, menguat 15 poin atau 0,09% dari penutupan sebelumnya.
Perhatian terhadap Shutdown Pemerintah AS
Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, memproyeksikan depresiasi lanjutan rupiah menuju level Rp 16.740 per dolar AS. Ia menyoroti bahwa berakhirnya shutdown pemerintah AS justru memunculkan potensi data ekonomi yang tidak lengkap akibat keterlambatan publikasi.
“Hal ini menimbulkan kekhawatiran Bank Sentral AS (The Fed) akan lebih sulit mengambil keputusan di tengah data yang terbata-bata,” kata Fikri.
Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps pada Desember 2025 turun menjadi sekitar 50%.
Fikri menambahkan, lelang Surat Berharga Rupiah Indonesia (SRBI) hari ini dapat menjadi penyangga. Jika minat investor asing tinggi, SRBI berpotensi meredam tekanan terhadap rupiah.
Prediksi Pelemahan Rupiah
Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures, memperkirakan rupiah masih berada dalam tren pelemahan seiring menguatnya dolar AS. Sentimen risk-off muncul setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan bernuansa hawkish, yang menurunkan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
“Rupiah akan berada di level Rp 16.650 per dolar AS hingga Rp 16.800 per dolar AS,” kata Lukman.
Kondisi Pasar dan Proyeksi
Beberapa faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah antara lain:
- Ekspektasi suku bunga AS: Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed turun, yang memengaruhi sentimen pasar.
- Kebijakan BI: Kebijakan Bank Indonesia yang longgar memengaruhi daya tarik rupiah.
- Indeks saham AS: Penutupan indeks saham AS yang negatif menambah tekanan terhadap aset berisiko.
- Data ekonomi AS: Keterlambatan publikasi data ekonomi akibat shutdown pemerintah AS memengaruhi keputusan The Fed.
- Sentimen risk-off: Pernyataan hawkish dari pejabat The Fed menurunkan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan akan terus menghadapi tekanan dalam beberapa hari ke depan. Namun, ada harapan bahwa lelang SRBI dapat menjadi penyangga jika minat investor asing tinggi.