
aiotrade, JAKARTA — Rupiah menjadi mata uang yang mengalami penurunan terbesar kedua di kawasan Asia sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD) atau selama periode 1 Januari hingga 14 November 2025.
Berdasarkan data dari Bloomberg, Rupiah melemah sebesar 3,44% YtD terhadap dolar AS. Dibandingkan dengan 11 mata uang negara Asia lainnya yang tercatat dalam data Bloomberg, performa kurs Rupiah menempati posisi yang paling buruk.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Secara historis, Rupiah terus mengalami pelemahan. Perinciannya adalah sebagai berikut:
-0,62% untuk satu bulan terakhir
3,54% untuk tiga bulan terakhir
* -0,86% untuk enam bulan terakhir
Artinya, penurunan paling tajam terjadi dalam tiga bulan terakhir atau terkonsentrasi pada kuartal terakhir. Jika melihat peristiwa domestik selama tiga bulan terakhir, memang terjadi demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota besar pada akhir Agustus, yang diikuti oleh pergantian menteri keuangan dari Sri Mulyani Indrawati menjadi Purbaya Yudhi Sadewa.
Sementara itu, Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan performa terbaik, yaitu penguatan sebesar 8,22% YtD terhadap dolar AS. Sebaliknya, Rupee India menjadi mata uang dengan performa terburuk dengan pelemahan sebesar 3,52% (hanya beda 0,08 basis persentase dengan Rupiah) terhadap dolar AS.
Rata-rata mata uang negara Asean seperti Ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan Dolar Singapura menguat signifikan antara +5% hingga +8% sepanjang tahun berjalan. Hanya Rupiah dan Peso Filipina yang mengalami pelemahan antara -1% hingga -3%.
Berikut Performa Kurs 12 Negara Asia YtD Berdasarkan Data Bloomberg:
Ringgit Malaysia (MYR): +8,22%
Baht Thailand (THB): +5,9%
Dollar Taiwan (TWD): +5,28%
Dollar Singapura (SGD): +5,16%
Renminbi China Offshore Spot (CNH): +3,36%
Renminbi China (CNY): +2,81%
Yen Jepang (JPY): +1,71%
Won Korea Selatan (KRW): +1,7%
Dollar Hong Kong (HKD): -0,05%
Peso Filipina (PHP): -1,82%
Rupiah Indonesia (IDR): -3,44%
Rupee India (INR): -3,52%
Arus Keluar Rp184 Triliun Modal Asing
Buruknya performa kurs Rupiah itu salah satunya tercermin dari arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Bank Indonesia mencatat arus modal asing sebesar Rp184,09 triliun keluar dari pasar keuangan Indonesia YtD atau 1 Januari—13 November 2025. Perinciannya adalah sebagai berikut:
Jual neto sebesar Rp37,24 triliun di pasar saham
Rp140,40 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)
* Rp6,45 triliun di Surat Berharga Negara (SBN)
Sejalan dengan perkembangan tersebut, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun tercatat di angka 73,51 basis poin (bps) per 13 November, naik dibandingkan 76,05 bps pada 7 November.
Di sisi lain, tingkat imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun tercatat stabil di 6,12% pada Jumat (14/11/2025) dari level yang sama 6,12% pada Kamis (13/11/2025). Sebagai perbandingan, imbal hasil UST (US Treasury) Note 10 tahun berada di level 4,119% pada Kamis (13/11/2025).
Sementara itu, nilai tukar rupiah tercatat dibuka menguat ke posisi Rp16.690 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (14/11/2025) dari posisi Rp16.720 per dolar AS pada penutupan Kamis (13/11/2025).
Dalam perkembangan lain, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa mencapai US$149,9 miliar per akhir Oktober 2025. Cadangan devisa tersebut naik dari bulan sebelumnya sebesar US$148,7 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyampaikan kenaikan tersebut dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
"Posisi cadangan devisa akhir Oktober 2025 setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas Denny dalam keterangannya, Jumat (7/11/2025).
Modal Asing Akan Kembali?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku optimistis aliran modal asing yang keluar besar-besaran kembali masuk seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian.
Purbaya tidak menampik bahwa investor SBN pemerintah belum sepenuhnya kembali masuk ke pasar keuangan RI. Kondisi itu, menurutnya, berbeda dengan pasar saham yang sudah kembali ke level normal. Dia menyebut investor asing pemegang obligasi pemerintah masih menunggu seperti apa perbaikan kondisi perekonomian Indonesia.
"Kalau saya bisa menunjukkan di triwulan keempat ini ekonominya tumbuh di atas 5,5%, [kisaran] 5,6%-5,7%, itu pasti akan balik lagi ke sini. Mereka mencari tempat yang paling stabil. [Arus modal] bond sempat masuk terus keluar lagi kan, mungkin karena saya enggak nongol dua minggu itu, 'Purbaya ada enggak nih?'," jelasnya kepada wartawan sambil berkelakar di kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Kendati ada sejumlah ketidakpastian, mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu meyakini kondisi pasar keuangan domestik masih cukup baik. Aliran modal asing keluar (outflow) itu dinilainya sebagai kondisi pasar yang likuid.
"Jadi, enggak ada masalah, malah itu menunjukkan marketnya cukup likuid ketika orang bisa keluar dengan mudah," ucapnya.